
Kepala Disperindag Kota Ambon, Herman Tetelepta. Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Semangat toleransi dan kekeluargaan terasa kental di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, selama pelaksanaan bulan suci Ramadhan 1447 H.
Ratusan Warga Binaan dengan berbagai latar belakang agama menjalani rutinitas ibadah masing-masing dengan damai, tanpa ada satu pun kendala atau konflik yang terjadi.
Mayoritas Warga Binaan muslim menghabiskan waktu mereka untuk berpuasa, melakukan tadarus Al-Qur’an secara berkala di Masjid At-Taubah yang berada di dalam kompleks lapas.
Sementara itu, rekan-rekan mereka yang beragama Kristen tetap dapat melaksanakan ibadah rutin dengan lancar – baik melalui pertemuan langsung di Gereja Ebenhaezer maupun dengan mengikuti ibadah virtual yang diselenggarakan secara berkala.
Salah seorang Warga Binaan yang tidak ingin disebutkan namanya bercerita, bahwa suasana kekeluargaan di dalam Lapas Wahai sudah menjadi budaya bersama.
“Kita tidak pernah melihat perbedaan agama sebagai halangan. Saat teman-teman muslim menjalankan puasa, kita juga memberikan dukungan dengan tidak membuat keributan atau mengganggu ibadah mereka. Begitu juga saat ada hari raya Kristen, saudara-saudara muslim juga selalu memberikan ucapan hangat,” jelasnya.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya menjelaskan, prinsip toleransi beragama telah menjadi bagian penting dari program pembinaan yang diterapkan di lembaganya.
“Kami tidak hanya fokus pada pembinaan perilaku dan keterampilan, tetapi juga pada pembentukan karakter yang menghargai keberagaman. Setiap Warga Binaan berhak menjalankan keyakinannya, sesuai ajaran agama masing-masing, dan kami pastikan fasilitas serta suasana mendukung hal tersebut,” ujar Tersih.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, yang baru-baru ini melakukan kunjungan kerja ke Lapas Wahai memberikan apresiasi tinggi atas upaya yang dilakukan.
Menurutnya, kesuksesan dalam membangun keharmonisan di tengah keberagaman menjadi contoh yang patut ditiru oleh lembaga pemasyarakatan lainnya.
“Suasana Ramadan yang penuh kedamaian di sini adalah, bukti bahwa persaudaraan antarumat beragama dapat tumbuh dengan baik, bahkan di lingkungan yang memiliki tantangan tersendiri seperti lapas. Lapas Wahai benar-benar menjadi contoh positif bagi seluruh wilayah Maluku, dalam menerapkan nilai-nilai toleransi,” pungkas Ricky.
Pada ibadah virtual terakhir yang dipimpin Pendeta Jeff Siwu, para Warga Binaan Kristen diajak untuk merenungkan pesan dari kitab 1 Petrus 2:17 dan Roma 14:19 tentang pentingnya menghormati sesama serta menjaga perdamaian.
“Kita hidup berdampingan, maka tanggung jawab kita adalah saling mendukung dan menciptakan suasana yang nyaman bagi semua orang. Bulan Ramadan adalah kesempatan bagi kita, untuk lebih memperkuat tali silaturahmi dengan saudara-saudara muslim,” ujar Pendeta Jeff dalam khotbahnya.
Selain ibadah rutin, pihak lapas juga menyelenggarakan kegiatan bersama seperti pembagian takjil dan makanan sahur bagi Warga Binaan muslim, yang juga disambut antusias oleh mereka yang tidak berpuasa dengan memberikan bantuan dalam penyusunan acara.





