
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Ambon, Juliana Welhelmina Patty. Foto-Ist/BA
Ambon, BeritaAktual.co – Program Kependudukan dan Keluarga Berencana (KB) di Kota Ambon mencatatkan pencapaian yang membanggakan sepanjang tahun 2025.
Berbagai indikator utama menunjukkan perkembangan positif, dengan kemajuan signifikan, dalam pengendalian laju pertumbuhan penduduk, dan peningkatan dukungan, serta partisipasi masyarakat terhadap program tersebut.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kota Ambon, Juliana Welhelmina Patty mengaku, keberhasilan ini tidak tercapai sendirian.
Kolaborasi antara DPPKB dengan berbagai institusi terkait, termasuk BKKBN dan seluruh perangkat daerah lainnya, menjadi kunci utama, dalam meraih hasil yang memuaskan.
“Kita menetapkan lima indeks utama sebagai tolok ukur dalam pembangunan keluarga, pengelolaan kependudukan, dan implementasi program KB sepanjang tahun lalu. Berdasarkan data yang telah terkumpul, tercatat penurunan pada indikator yang perlu dikendalikan, dan capaian yang cukup memuaskan pada berbagai aspek penting,” ungkap Juliana, saat dihubungi dari Ambon, Jumat (23/1/2026).
Salah satu pencapaian paling menonjol adalah, pencatatan Total Fertility Rate (TFR) Kota Ambon di angka 1,99. Menurut Juliana, angka ini sangat baik karena berada tepat di dekat standar ideal yang ditetapkan, yaitu sekitar dua anak per perempuan.
“Dari sisi statistik, angka TFR 1,99 berarti rata-rata perempuan di Kota Ambon memiliki jumlah anak yang mendekati target ideal. Hal ini menjadi bukti, bahwa pertumbuhan penduduk kita saat ini berjalan dengan seimbang dan terkontrol dengan baik,” jelasnya.
Selain itu, tingkat partisipasi peserta KB aktif atau yang dikenal dengan Contraceptive Prevalence Rate (CPR) juga menunjukkan performa yang kuat, mencapai 89,72 persen. Angka ini bahkan melampaui rata-rata standar, yang ditetapkan secara nasional.
“Angka CPR yang tinggi ini menggambarkan, bahwa kesadaran masyarakat Kota Ambon mengenai pentingnya penggunaan alat kontrasepsi sudah sangat tinggi. Hal ini menjadi dasar yang solid, untuk kelangsungan dan perkembangan program KB ke depannya,” ujarnya.
Meskipun demikian, kata dia, terdapat beberapa tantangan yang masih perlu diperhatikan dan menjadi fokus perbaikan. Salah satunya adalah, indikator unmet need atau persentase kebutuhan akan layanan KB yang belum terpenuhi, yang tercatat sebesar 13,32 persen. Angka ideal yang diharapkan adalah di bawah 10 persen.
“Kelompok yang masuk dalam indikator ini adalah, pasangan usia subur yang sebenarnya tidak berkeinginan untuk memiliki anak dalam waktu dekat, namun belum menggunakan metode kontrasepsi apapun. Mereka menjadi target utama kerja kita ke depan, karena berpotensi mengalami kehamilan yang tidak direncanakan,” paparnya.
Indikator lain yang menjadi perhatian adalah angka kelahiran pada kelompok remaja atau Specific Fertility Rate (SFR) untuk usia 15–19 tahun, yang berada di angka 15 persen.
Meskipun masih terdapat kasus, angka tersebut dinilai dalam batasan yang dapat dikelola berkat berbagai program edukasi yang telah berjalan secara konsisten.
“Kami mengucapkan syukur, karena melalui serangkaian program seperti Generasi Berencana (GenRe), penyuluhan kesehatan reproduksi, serta pembelajaran terkait di lingkungan sekolah-sekolah, kita berhasil menekan angka kelahiran pada kelompok usia remaja,” tambah Juliana.
Selain fokus pada program KB, lanjut Juliana, DPPKB Kota Ambon juga akan terus memperkuat berbagai program prioritas lainnya. Salah satunya adalah, upaya percepatan penurunan angka stunting di wilayah Kota Ambon.
“Penanganan masalah stunting tetap menjadi prioritas utama, yang akan kita dorong secara berkelanjutan. Pendekatan yang kami gunakan adalah, melalui pendampingan keluarga secara intensif dan berkelanjutan, sehingga dapat memberikan dampak yang nyata,” pungkasnya.





