
Lapas Kelas III Wahai melakukan penataan, dan pelabelan seluruh koleksi buku perpustakaan, Jumat (13/3/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai melakukan penataan, dan pelabelan seluruh koleksi buku perpustakaan, guna meningkatkan kualitas pembinaan kepribadian dan intelektual warga binaan. Kegiatan yang berlangsung di aula lapas, Jumat (13/3/2026), turut melibatkan petugas serta warga binaan.
Penataan dilakukan dengan mengelompokkan buku berdasarkan kategori, seperti keagamaan, keterampilan, hingga pengetahuan umum.
Langkah ini bertujuan, untuk mempermudah warga binaan, dalam mencari bahan bacaan yang sesuai dengan minat dan kebutuhan mereka.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, mengatakan, perpustakaan merupakan salah satu sarana penting, dalam mendukung pembinaan di dalam lembaga pemasyarakatan, khususnya dalam pemenuhan hak pendidikan bagi warga binaan.
Menurutnya, ketersediaan buku yang tertata rapi akan membantu warga binaan lebih mudah mengakses literatur, sekaligus mendorong mereka untuk meningkatkan minat membaca.
“Dengan pelabelan sesuai kategori, warga binaan dapat lebih cepat menemukan buku yang mereka butuhkan, baik yang berkaitan dengan agama, keterampilan, maupun pengetahuan umum,” ujarnya.
Ia berharap, fasilitas perpustakaan yang semakin tertata dapat dimanfaatkan secara optimal, sebagai sarana menambah wawasan selama menjalani masa pembinaan.
Staf Subseksi Pembinaan, Frans Tepal, menjelaskan bahwa warga binaan juga dilibatkan secara langsung dalam proses penataan tersebut. Selain membantu pelabelan, mereka juga mendapat pelatihan singkat terkait cara mengklasifikasikan buku.
“Kami memberikan pemahaman dasar mengenai pengelompokan buku, sehingga warga binaan tidak hanya membaca, tetapi juga belajar bagaimana mengelola perpustakaan dengan baik,” katanya.
Melalui penataan ini, Frans berharap, perpustakaan dapat terus berfungsi sebagai pusat literasi, dan pembelajaran yang mendukung proses pembinaan warga binaan secara berkelanjutan, sehingga mereka memiliki bekal pengetahuan yang bermanfaat ketika kembali ke masyarakat.
Salah satu warga binaan berinisial IK mengaku, penataan tersebut membuat perpustakaan menjadi lebih tertib, dan mudah digunakan.
Menurutnya, dengan adanya label yang jelas pada setiap buku, warga binaan kini dapat lebih cepat menemukan bacaan yang diinginkan, dan lebih termotivasi untuk memanfaatkan waktu luang dengan membaca.




