
Puluhan warga binaan Lapas Wahai berkumpul, untuk mengikuti pembacaan Surat Yasin, dan doa bersama sebagai wujud rasa syukur usai perayaan Idul Adha 1447 Hijriah, Kamis (28/5/2026) malam. Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Suasana haru dan penuh kekhusyukan menyelimuti Masjid At-Taubah, yang berada di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, Kamis (28/5/2026) malam.
Puluhan warga binaan berkumpul, untuk mengikuti pembacaan Surat Yasin, dan doa bersama sebagai wujud rasa syukur usai perayaan Idul Adha 1447 Hijriah.
Kegiatan yang dipimpin oleh petugas kerohanian Lapas tersebut berlangsung secara khidmat.
Lantunan ayat suci Al-Qur’an menggema di dalam masjid, diiringi doa dan permohonan ampun dari para warga binaan, yang sekaligus merenungkan makna pengorbanan dan keikhlasan dalam momentum Idul Adha.
Salah seorang warga binaan berinisial AG mengaku bersyukur masih diberikan kesempatan, untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa, meski berada di balik jeruji besi.
“Di balik jeruji besi ini, kami merasa damai dan bersyukur masih bisa berkumpul bersama teman-teman, untuk membaca Surat Yasin. Momen kurban kali ini mengingatkan kami, agar senantiasa ikhlas dan bertekad menjadi pribadi yang lebih baik lagi, saat nanti kembali ke tengah masyarakat,” ujarnya.
Pelaksana Harian Kepala Lapas Wahai, La Joi menyatakan, kegiatan yasinan merupakan bagian dari program pembinaan kerohanian, yang dilaksanakan secara rutin bagi para warga binaan.
Menurutnya, perayaan Idul Adha mengandung pesan penting mengenai makna pengorbanan, keikhlasan, serta upaya memperbaiki diri selama menjalani masa hukuman.
“Idul Adha mengajarkan nilai-nilai pengorbanan dan keikhlasan. Kami berharap, momentum ini benar-benar menjadi sarana refleksi diri bagi warga binaan, agar terus memperbaiki akhlak, konsisten dalam beribadah, dan menjadikan masa hukuman ini sebagai proses transformasi menuju pribadi yang lebih bermanfaat,” kata La Joi.
Dia memastikan, pembinaan kerohanian akan terus menjadi agenda rutin, guna menjaga stabilitas kondisi mental dan spiritual para warga binaan, selama menjalani masa pidana.
Apresiasi terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro.
Ia menilai, konsistensi pelaksanaan pembinaan keagamaan di Lapas Wahai merupakan wujud nyata penyelenggaraan pemasyarakatan yang humanis dan transformatif.
“Pembinaan kerohanian merupakan fondasi utama, dalam pembentukan karakter warga binaan. Melalui kegiatan yasinan dan doa bersama seperti ini, diharapkan dapat meredam emosi, menumbuhkan ketenangan batin, serta memperkuat keimanan mereka. Hal ini menjadi bekal spiritual yang penting, agar mereka dapat kembali ke tengah keluarga dan masyarakat dengan pribadi yang jauh lebih baik,” ungkap Ricky.
Secara keseluruhan, kegiatan keagamaan tersebut berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar.






