Kejari Manokwari, Musnahkan Empat Senjata Buatan Pabrik dan 67 Peluru Aktif 1 IMG 20210119 222853
Caption : Kejari Manokwari memusnahkan barang bukti Empat Senjata Api Organik Buatan pabrik dengan cara digurinda/sus
Metro Aktual

Kejari Manokwari, Musnahkan Empat Senjata Buatan Pabrik dan 67 Peluru Aktif

Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MANOKWARI, BeritaAktual.co – Kejaksaan Negeri (Kejari) Manokwari, memusnahkan barang bukti hasil sitaan atau rampasan negara, berupa empat pucuk Senjata Api organik buatan pabrik beserta puluhan butir peluru aktif.

Kepala Kejari Manokwari Damly Rowelcis mengatakan, senjata Api yang dimusnahkan ini sudah berkekuatan hukum tetap (incrah) berdasarkan putusan pengadilan. Diantaranya ialah satu pucuk Baby Uzi, Kaspian, SCP Spesial, dan satu pucuk Us Carabin (tidak utuh).

“Semuanya lengkap magazen, dan ada peluru aktif untuk tiap-tiap senjata dengan total 67 butir,” jelasnya kepada sejumlah wartawan di halaman belakang kantor Kejari Manokwari, Selasa 19 Januari 2021.

Pemusnahan Senjata Api tersebut dilakukan sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat, khususnya masyarakat adat Arfak. 

“Sebab senjata api hingga kini masih dipergunakan sebagai mahar perkawinan. Ini tentu akan bertentangan dengan Undang-undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 yang mengatur perihal kepemilikan Senjata Api,” terangnya.

Budaya memang harus dilestari dan di pertahankan, namun mahar kawin penggunaan Senjata Api sebaiknya diganti dengan benda lain atau bentuknya masih menyerupai Senjata Api.

“Seperti replika atau tiruan yang memang khusus diperuntukan sebagai hiasan atau pajangan dinding, bukan Senjata Api rakitan yang masih aktif, apalagi Senjata Api organik buatan pabrik,” ucap Kajari Manokwari ini.

Saya tidak ada maksud untuk merubah budaya, tetapi masyarakat adat sebaiknya paham. Mereka akan tetap berurusan dengan hukum, karena terkait Senjata Api itu diatur dalam Undang-undang.

“Untuk para kepala Suku ataupun pemangku adat, sebaiknya memberikan edukasi kepada warganya. Sehingga hal serupa tidak terjadi lagi dikemudian hari,” katanya.

Wakil Kepala Kejaksaan Tinggi (Kejati) Papua Barat Witono menurutnya, para Kepala Suku besar Arfak harus memperhatikan serius hal tersebut. Karena mahar perkawinan yang dipergunakan adalah Senjata Api peninggalan jaman kolonial yang dipergunakan dalam acara adat, secara turun temurun.

“Kini berbeda peruntukan Senjata Api sebagai mahar permawinan telah bergeser ke Senjata Api organik buatan pabrik. Ironisnya, kasus kepemilikan Senjata Api secara illegal selalu melibatkan masyarakat lokal, dengan alasan membeli untuk dipersiapkan sebagai mahar perkawinan, dan itu terjadi berulang kali,” kata Wakajati.

Memang ada budaya yang melekat dikalangan masyarakat Papua, khususnya masyarakat Arfak di Pegunungan Arfak (Pegaf), Senjata Api adalah bentuk mahar perkawinan. 

Ia menambahkan, ini harus di edukasikan, bahwa memiliki senjata api tanpa ijin dari pihak berwenang, ini sebuah pelanggaran karena semua itu ada prosesnya, dan kelengkapan surat-suratnya,” ujar Witono.(sus)


Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.