Sangat Penting Tingkatkan Ketahanan Pangan Papua Barat Dimasa Pandemi 1 IMG 20210304 WA0103
Caption : Pangdam XVIII Kasuari Mahasiswa UNIPA Faperta Diajak Mewujudkan Ketahanan Pangan di Papua Barat/dok.Pendam XVIII Kasuari
Metro

Sangat Penting Tingkatkan Ketahanan Pangan Papua Barat Dimasa Pandemi

Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MANOKWARI, BeritaAktual.co Pangdam XVIII/Kasuari, Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr. (Han) didampingi Kasdam XVIII/Kasuari, Brigjen TNI Djoko Andoko dan PJU lainnya menerima audiensi bersama mahasiswa Universitas Papua (Unipa) Fakultas Pertanian dan Peternakan, di ruang Yudha Makodam XVIII/Kasuari, Trikora Arfai 1, Manokwari, Papua Barat, Kamis 04 Maret 2021.

Dalam audiens Pangdam XVIII Kasuari, Mayjen TNI I Nyoman Cantiasa, S.E., M.Tr.(Han) mengatakan, pemerintah papua barat berusaha melawan covid-19 dengan strategi mendirikan 115 kampung tangguh dengan mendesain suatu kampung yang lengkap berada di Provinsi Papua Barat. 

Yang mana 115 kampung tangguh tersebut harus memiliki ketahanan pangan, sehingga disaat terjadi lockdown masyarakat sudah siap untuk menghidupi dirinya dalam hal pangan, sekaligus mampu mencukupi kebutuhan pangan yang ada di kampungnya.

“Nah, disana semua stakeholder terlibat, baik TNI-Polri, pemerintah daerah dari tingkat kabupaten sampai dengan tingkat RT/RW,” tutur mantan Danjen Kopassus ini kepada sejumlah wartawan, di Makodam XVIII Kasuari, Kamis 04 Maret 2021.

Lebih lanjut Cantiasa mengatakan, untuk itu perlunya kita membuat sebuah ketahanan pangan di seluruh wilayah papua barat, dengan cara membudayakan masyarakat untuk berkebun, membuat tanaman-tanaman sayur, memelihara ikan, dan berternak untuk kebutuhan gizi masyarakat sehari-hari.

“Saya mengajak mahasiswa UNIPA Faperta membangun papua barat menuju indonesia maju karena kondisi masyarakat saat ini khususnya di masa pandemi Covid-19, ekonomi semakin menurun dan daya beli masyarakat semakin rendah,” ucap pria yang lahir di Bubunan, Seririt, Buleleng, Bali ini.

Kata Cantiasa, menyiapkan ketahanan pangan masyarakat di papua barat adalah menjadi tanggung jawab bersama, termasuk juga para mahasiswa fakultas pertanian dan fakultas peternakan Unipa, yang secara akademisi mendapatkan ilmu tentang bagaimana bercocok tanam, namun harus tetap melakukan inovasi-inovasi, terkait dinamika di lapangan, dihadapkan pada kondisi geografis Papua Barat.

“Kita harus selalu memiliki banyak ide gagasan, bagaimana dengan biaya yang murah kita bisa menyiapkan ketahanan pangan untuk masyarakat Papua Barat. Untuk itu, Kodam XVIII/Kasuari mengajak Civitas Akademika Unipa untuk memberikan contoh kepada masyarakat bagaimana menyiapkan ketahanan pangan yang baik dengan biaya yang sangat murah,” kata Cantiasa yang merupakan lulusan terbaik Akmil tahun 1990.

Menurutnya, konsep pertanian ketahanan pangan yang sederhana adalah bagaimana masyarakat kita bisa memetik sayur di sekitar rumahnya setiap hari untuk memenuhi kebutuhan gizi dan vitamin sehingga kedepan sumber daya manusia Papua Barat semakin baik.

Tentu saja melihat hal ini, Kodam XVIII/Kasuari memiliki sebuah gagasan bagaimana membuat sebuah “pilot project” ketahanan pangan, yang bisa dijangkau oleh masyarakat dan menyentuh langsung di hati masyarakat tanpa membutuhkan biaya yang mahal, yakni dengan menggunakan limbah dan bahan bekas yang ada di lingkungan sekitar.

“Karena ancaman ekonomi sangat terasa dampaknya dengan adanya virus Covid-19 ini, ini nyata masalah krisis ekonomi akhirnya berkelanjutan menjadi krisis sosial,” jelas mantan komandan di Batalyon 811 atau Aksi Khusus (Aksus).

Semua dilakukan lanjut Pangdam, agar jangan sampai indonesia mengalami krisis kesehatan, dikarenakan lalai dan tidak ketat protokol kesehatan Covid-19 dalam menghadapinya. Untuk itu, semua stakeholder terus berusaha bagaimana menghentikan pandemi Covid-19 ini, dan salah satunya dengan terus membangun sinergi. Mengapa? karena permasalahan bangsa tidak bisa diselesaikan secara individu.

“Ketahanan negara itu sama dengan ketahanan pangan, dimana disaat ketahanan pangan tidak kuat atau lemah, hal ini menjadi tanda bahwa suatu negara akan hancur, karena tidak ada makanan,” pungkas mantan komandan Pusdikpassus ini. [sus]


Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.