Teknologi Digital Farming Mulai Diimplementasikan Kelompok Tani di Papua Barat    1 IMG 20210304 WA0084
Caption : Peresmian Implementasi Digital Farming pada Poktan Harapan Gawe Makmur Kab. Sorong/Dokumentasi Humas BI Papua Barat
Metro

Teknologi Digital Farming Mulai Diimplementasikan Kelompok Tani di Papua Barat   

Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

MANOKWARI, BeritaAktual.co – Keberadaan teknologi sudah sepatutnya memudahkan segala jenis pekerjaan umat manusia, tidak terkecuali pada sektor pertanian. Sebagai Bank sentral Republik Indonesia, Bank Indonesia memiliki visi menjadi bank sentral digital terdepan yang berkontribusi nyata terhadap perekonomian nasional dan terbaik di antara negara emerging markets untuk Indonesia maju. 

Sejalan dengan visi tersebut, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat (BI Papua Barat) bersama Pemkab Sorong, mulai mengimplementasikan teknologi digital farming pada klaster cabai merah Kelompok Tani (Poktan) Harapan Gawe Makmur di Kabupaten Sorong. 

Wakil Bupati Sorong Suko Harjono meresmikan teknologi digital farming pada klaster cabai merah Kelompok Tani (Poktan) Harapan Gawe Makmur di Kabupaten Sorong. 

Kegiatan dilanjutkan dengan pelatihan kepada seluruh anggota Poktan mengenai konsep digital farming hingga implementasi penggunaan aplikasi pada smartphone.

Wakil Bupati Sorong Suko Harjono mengatakan, digital farming pada prinsipnya merupakan konsep pengelolaan pertanian dengan memanfaatkan bantuan teknologi berbasis digital. Penggunaan digital farming diharapkan bisa mendorong berlipatnya produksi komoditas yang dibudidayakan sehingga keuntungan yang diperoleh, baik dari sisi finansial maupun non finansial, semakin meningkat. 

Implementasi teknologi ini dibarengi pengunaan aplikasi android yang terhubung dengan alat sensor cuaca dan tanah yang dapat memonitoring kondisi tanah dan cuaca terkini sehingga dengan adanya prediksi cuaca yang akurat, petani dapat menentukan jadwal tanam, mengukur kebutuhan tanam hingga menentukan komoditas terbaik yang akan dibudidayakan,” tuturnya.

Di samping itu, aplikasi tersebut dapat memberikan notifikasi kondisi terkini mengenai tanah dan cuaca, sehingga petani dapat menentukan teknik budidaya yang tepat dan mengontrol penggunaan saprodi atau saprotan. 

Sebagai informasi, BI Papua Barat menggandeng PT Mitra Sejahtera Membangun Bangsa sebagai perusahaan agritech yang menciptakan aplikasi pertanian bernama RiTx,” ucapnya.

Digital farming tidak hanya bicara dari sisi hulu pertanian, namun juga perlu diterapkan pada hilirisasi produk pertanian. Demikian yang disampaikan oleh Wakil Bupati Sorong pada sambutan dan pengarahan di hadapan seluruh hadirin yang hadir. Petani diharapkan dapat cepat beradaptasi dengan cepatnya perubahan teknologi di bidang pertanian. 

Sementara itu, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua Barat, Rut W. Eka Trisilowati menyampaikan, bahwa Bank Indonesia akan siap mengawal kesuksesan implementasi digital farming di Papua Barat. 

Berdasarkan pemantauan, Kabupaten Sorong menjadi daerah pertama di Papua Barat yang mengimplementasikan teknologi ini sehingga diharapkan dapat berhasil dan mendorong Pemda lainnya untuk turut mengaplikasikannya pada petani di daerah masing-masing.

Terdapat 6 (enam) alur/skema implementasi teknologi digital farming,” terang mantan Deputi Kepala Perwakilan BI NTT.

Dikatakan, alur pertama dimulai dengan survei lokasi terlebih dahulu untuk pemetaan kondisi lahan sekaligus pengelompokan lahan (clustering) dengan mempertimbangkan beberapa kondisi a.l. jenis tanah, saluran irigasi, kondisi lingkungan, dan kontur tanah. 

Setelah penentuan lokasi lahan yang paling representatif, dilakukan pemasangan alat sensor tanah dan cuaca. Selanjutnya dilakukan sosialisasi dan ToT penggunaan aplikasi. Tim juga akan terus melakukan monitoring terutama dalam masa penanaman hingga agritrade-hilir,” jelasnya.

Implementasi digital farming merupakan bagian dari roadmap pendampingan BI Papua Barat pada klaster cabai binaan. 

Sebagai kilas balik, Poktan Harapan Gawe Makmur resmi menjadi binaan BI Papua Barat sejak Juni 2019. Dengan tujuan dapat menjadi sentra produksi cabai merah sebagai upaya pengendalian inflasi di Kota Sorong dan sekitarnya,” kata Rut.

Pada tahun pertama pendampingan, BI Papua Barat telah menyalurkan berbagai bantuan saprodi/saprotan. Pada awal 2020 program dilanjutkan dengan implementasi penggunaan pupuk organik berbasis Microbachter Alfaafa 11 (MA 11), diawali kegiatan study visit ke Boyolali dan pembangunan Laboratorium Mini MA 11 yang diresmikan oleh Gubernur Papua Barat pada bulan Juli 2020.

Rut menambahkan, bersama Pemerintah Daerah dan seluruh stakeholders di Papua Barat, Bank Indonesia siap berkolaborasi untuk mendukung kegiatan pengembangan pertanian terutama pada komoditas penyumbang inflasi, komoditas potensi ekspor maupun komoditas pendukung pariwisata demi kesejahteraan masyarakat di Papua Barat,” tandas Rut.[sus]


Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.