Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Dan CI Bangun Basis Data Populasi Hiu Paus 1 IMG 20210615 WA0042
Metro

Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Dan CI Bangun Basis Data Populasi Hiu Paus

Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

SORONG, BeritaAktual.co Basis data hiu paus yang tersedia untuk wilayah Bentang Laut Kepala Burung (BLKB) menyatakan bahwa trend penemuan individu baru masih tinggi. Hal tersebut mengisyaratkan bahwa masih banyak individu hiu paus yang belum tersensus, baik itu individu hiu paus lama yang mendiami BLKB, maupun individu-individu yang baru saja masuk atau transit ke dalam wilayah BLKB.

“Karena terbatasnya pelaksanaan pengumpulan foto dan identifikasi dari kalangan yang memiliki ketertarikan dan kepentingan akan hiu paus, seperti peneliti dan pengelola kawasan mengakibatkan data yang terkumpul masih berskala kecil. Di sisi lain, wisatawan, masyarakat, dan nelayan dapat dimanfaatkan untuk berkontribusi dalam pengumpulan data hiu paus tersebut,” kata Elasmobranch Conservation International (CI) Indonesia Mochamad Iqbal Herwata dalam rilis yang diterima di Sorong, Selasa 15/06/2021.

Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Dan CI Bangun Basis Data Populasi Hiu Paus 2 Screenshot 20210616 122429 Docs
Contoh bagian tubuh hiu paus yang didokumentasikan untuk keperluan identifikasi individu atau Photo ID. [Foto Oleh: CI Indonesia/2021].
Dikatakan, partisipasi publik dalam penelitian ilmiah atau yang sering kita dengar dengan nama citizen science, dapat mengisi kesenjangan pengumpulan data hiu paus baik dari segi cakupan waktu maupun lokasi pemantauan. Lebih lanjut, data yang belum terintegrasi, atau ‘satu pintu,’ menjadi tantangan tersendiri dalam pengelolaan basis data hiu paus.

Merespon kesenjangan dan potensi pemanfaatan citizen science, Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih (TNTC) dan Conservation International (CI) Indonesia menyelenggarakan lokakarya selama tiga hari yang mulai tanggal 8 hingga 10 Juni 2021 yang bertujuan untuk membangun sistem pemantauan digital menggunakan basis data hiu paus yang kuat dan terintegrasi di TNTC.

Hasil utama dari lokakarya tersebut adalah dikembangkannya aplikasi survei hiu paus yang dibagi menjadi beberapa kelompok pengumpul data berdasarkan tingkat informasinya, antara lain, Peneliti (tingkat lanjut), Wisatawan (tingkat menengah), dan Nelayan/Masyarakat (tingkat dasar). Beberapa jenis data yang dikumpulkan secara terintegrasi tersebut dapat divisualisasikan secara real-time untuk memudahkan pengambil keputusan, kebijakan pengelolaan berdasarkan pantauan populasi hiu paus terkini.

Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Dan CI Bangun Basis Data Populasi Hiu Paus 3 IMG 20210615 WA0038
Foto kegiatan di bulan April 2021 lalu yang diselenggarakan oleh Balai Besar TNTC dan CI Indonesia dengan bertujuan untuk mengembangkan sistem pencatatan dan basis data terintegrasi. [Foto Oleh: CI Indonesia/2021].
Menurut Iqbal, foto identifikasi atau biasa disebut dengan Photo ID, pada individu hiu paus merupakan salah satu pendekatan yang saat ini dilakukan secara global dikarenakan hasil data yang dikumpulkan dapat menjawab berbagai pertanyaan kunci. Inti yang paling penting dari hasil lokakarya tersebut adalah pengumpulan datanya yang relatif mudah dan murah sehingga siapa saja dapat berpartisipasi.

“Sensus populasi melalui foto identifikasi sebagaimana disebutkan di atas memanfaatkan pola bintik yang unik untuk setiap individu hiu paus. Pola bintik tersebut dapat dianalogikan seperti sidik jari pada manusia sehingga peneliti dapat membedakan antara satu individu dengan individu lainnya, serta memantau perkembangan setiap individu seperti pola pertumbuhan dan penyembuhan luka,” ujarnya.

Sejak hiu paus di Teluk Cenderawasih terungkap melakukan perjalanan ke kawasan BLKB lainnya seperti Kabupaten Raja Ampat, Fakfak, dan Kaimana, pengembangan metode penilaian populasi yang terstandar dengan sistem basis data terintegrasi terus dikembangkan untuk lebih memahami populasi dalam skala regional untuk tujuan konservasi dan pengelolaannya.

Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Dan CI Bangun Basis Data Populasi Hiu Paus 4 Screenshot 20210616 122419 Docs
Gambaran pergerakan populasi hiu paus dari Teluk Cenderawasih ke daerah-daerah lainnya. [Sumber: CI Indonesia/2021].
Untuk mendukung perlindungan terhadap hiu paus, Balai Besar TNTC telah membangun fasilitas Whale Shark Center (WSC) yang berfungsi sebagai pusat penelitian. Kedepannya, sistem pencatatan dan basis data hiu paus sebagaimana dijabarkan akan menjadi alat yang digunakan para peneliti, wisatawan, dan nelayan serta masyarakat dalam melaporkan perjumpaannya dengan hiu paus yang hasilnya dapat dilihat secara real-time melalui dashboard yang akan ditampilkan di WSC. Sehingga, selain diperuntukan bagi penelitian dan alat pengambil keputusan, kebijakan, basis data ini dapat digunakan sebagai media komunikasi dan edukasi tentang konservasi dan pengelolaan hiu paus.

Hiu paus merupakan spesies ikan terbesar dan memang diketahui dapat melakukan pergerakan jarak jauh, contohnya hiu paus “Elula II” (sebagaimana ditampilkan sebagai titik warna merah di foto 3) yang mampu bergerak ± 10.000 kilometer dari Teluk Cenderawasih ke Kepulauan Marshall di Samudera Pasifik.

Balai Besar Taman Nasional Teluk Cenderawasih Dan CI Bangun Basis Data Populasi Hiu Paus 5 IMG 20210616 WA0019
Fasilitas Whale Shark Center di Taman Nasional Teluk Cenderawasih yang diperuntukkan sebagai pusat penelitian hiu paus. [Foto Oleh: Luca Vaime/Underwater Tribe/2021].
Selain itu, hiu paus memiliki umur panjang namun dengan fekunditas rendah dan jumlah anakan yang sedikit. Untuk itu, pemantauan populasi mereka sangatlah penting dilakukan agar dapat memahami ukuran populasinya di alam bebas, dan memahami konektivitas populasinya dengan wilayah lain agar strategi pengelolaan yang diambil tepat sasaran.

Sebagai informasi, saat ini hiu paus masuk dalam Apendiks II Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), serta termasuk dalam daftar merah International Union for Conservation of Nature (IUCN) dengan kategori genting (endangered). [red].


Bagikan berita ini
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.