
Proses penyesuaian papan data hunian, dan pemindahan blok kamar telah diselesaikan, Jumat (27/2/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Bulan suci Ramadan 1447 Hijriah menghadirkan suasana khidmat dan penuh makna di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai.
Dalam rangka menghormati ibadah puasa dan memperkuat jiwa toleransi antarumat beragama, pihak pengelola lapas telah mengambil langkah khusus dengan menyatukan hunian bagi Warga Binaan non-muslim selama periode puasa berlangsung.
Proses penyesuaian papan data hunian dan pemindahan blok kamar telah diselesaikan, Jumat (27/2/2026). Langkah ini diambil agar Warga Binaan muslim dapat menjalankan ibadah puasa, menyantap sahur, serta melaksanakan salat tarawih dengan khusyuk penuh, tanpa adanya gangguan dari aktivitas sehari-hari rekan sekamar yang tidak menjalankan puasa.
Warga Binaan non-muslim yang mengalami penyesuaian kamar tidak hanya menerima kebijakan ini dengan lapang dada, namun juga menunjukkan dukungan yang luar biasa.
Mereka aktif membantu dalam berbagai persiapan kebutuhan ibadah, mulai dari menyiapkan tempat untuk sahur hingga menjaga ketenangan lingkungan selama pelaksanaan ibadah malam.
Kepala Subseksi Keamanan dan Ketertiban, Usman Bakri mengatakan, penataan ulang kamar ini bertujuan untuk menciptakan atmosfer, yang lebih mendukung aktivitas keagamaan.
“Kami berusaha memberikan kondisi terbaik, agar para Warga Binaan yang berpuasa bisa fokus menjalankan ibadahnya tanpa hambatan apa pun,” papar Usman.

Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menjelaskan, kebijakan ini juga menjadi bagian penting dari pembinaan karakter, untuk mengajarkan nilai saling menghormati.
“Setiap individu memiliki hak, untuk menjalankan keyakinannya. Dengan menyatukan kamar bagi Warga Binaan non-muslim, kami ingin menciptakan keharmonisan di mana kedua kelompok dapat merasa nyaman dan saling mendukung,” ungkap Tersih.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro memberikan apresiasi terhadap langkah yang diambil.
“Inisiatif ini sangat positif, dan menunjukkan bagaimana kita bisa mengelola keberagaman dengan cerdas. Pastikan bahwa kebijakan ini tetap menjaga kesejahteraan semua Warga Binaan dan tidak mengorbankan hak-hak dasar mereka, melainkan memperkuat rasa kebersamaan,” tandasnya.
Di samping penataan kamar, suasana Ramadan di Lapas Wahai semakin meriah dengan berbagai kegiatan pembinaan seperti tadarus bersama setiap malam dan ibadah rutin yang diikuti dengan antusias.
Semua kegiatan ini mencerminkan semangat kebersamaan yang sesuai dengan filosofi Manusiawi, Efektif, Sinergi, Responsif, Amanah (MESRA), yang menjadi landasan kerja Lapas Wahai, dalam menjunjung tinggi nilai toleransi dan persaudaraan.




