
Warga binaan beragama Kristen mengikuti ibadah virtual, di Gereja Ebenhaezer Lapas Wahai, Rabu (25/3/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Komitmen pembinaan kepribadian di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai tetap berjalan konsisten, meski suasana libur Idulfitri baru saja usai. Warga Binaan (WB) beragama Kristen mengikuti ibadah virtual, di Gereja Ebenhaezer Lapas Wahai, Rabu (25/3/2026).
Ibadah yang bertujuan memperkuat iman dan spiritualitas tersebut dilaksanakan secara daring dengan menghubungkan Warga Binaan Kristiani di berbagai Lapas dan Rumah Tahanan (Rutan) di Indonesia, melalui pelayanan dari Yayasan Cahaya Kasih.
Kegiatan berlangsung khidmat, diwarnai pujian rohani, dan penyampaian firman yang menjadi sarana refleksi diri, serta pembentukan karakter.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya menegaskan, kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen pembinaan mental yang berkelanjutan, sekaligus menjaga suasana Lapas tetap kondusif dan penuh nilai kasih.
“Kami memastikan hak ibadah seluruh Warga Binaan terpenuhi. Setelah libur Lebaran, kami kembali fokus pada pembinaan kepribadian agar Warga Binaan Kristiani semakin disiplin, bertobat, dan menjadi pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Melalui program pembinaan yang holistik, lanjut Noya, Lapas Wahai terus berupaya tidak hanya membekali Warga Binaan dengan keterampilan kemandirian, tetapi juga memperkuat nilai-nilai moral dan spiritual sebagai bekal menjalani kehidupan yang lebih baik di masa depan.
Ibadah virtual bertema masa Pra Paskah itu dipimpin Pastor Benny, yang mengajak Warga Binaan untuk memaknai penderitaan Yesus Kristus, sebagai jalan pengampunan dosa.
Ia juga mendorong para Warga Binaan, untuk terus memperbaiki diri selama menjalani masa pembinaan.
“Kehidupan di Lapas merupakan bagian dari proses yang harus dilalui. Melalui pengakuan dosa dan refleksi diri, kita diajak untuk semakin dekat kepada Tuhan, dan siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik,” pesannya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro menekankan pentingnya pembinaan mental dan spiritual, yang berjalan seiring dengan nilai toleransi.
“Kami berharap, ibadah virtual ini menjadi sarana perbaikan diri bagi Warga Binaan agar siap kembali ke masyarakat. Tidak hanya di Lapas Wahai, tetapi juga di seluruh jajaran Pemasyarakatan di Maluku,” katanya.




