
Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, saat meresmikan fasilitas sistem peringatan dini banjir dan tsunami, di Jembatan Satu Rupiah, serta peresmian Tugu Peringatan Tsunami 1950 di Negeri Hative Kecil, Sabtu (5/9/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena menegaskan, penguatan mitigasi bencana di Kota Ambon harus diarahkan pada satu tujuan utama, yakni memastikan masyarakat lebih siap menghadapi ancaman bencana, dan meminimalkan risiko korban jiwa.
Pernyataan itu disampaikan Wali Kota dalam sambutannya, saat meresmikan fasilitas sistem peringatan dini (early warning system) banjir dan tsunami, di Jembatan Satu Rupiah, serta peresmian Tugu Peringatan Tsunami 1950 di Negeri Hative Kecil, Sabtu (5/9/2026).
Menurutnya, kondisi geografis Kota Ambon membuat wilayah ini memiliki potensi menghadapi berbagai jenis bencana, mulai dari gempa bumi dan tsunami hingga banjir, tanah longsor, serta pohon tumbang.
Karena itu, pemerintah tidak hanya berfokus pada penanganan setelah bencana terjadi, tetapi juga memperkuat langkah antisipasi melalui sistem peringatan dini, pembangunan infrastruktur mitigasi, serta peningkatan kapasitas masyarakat.
“Bencana tidak bisa kita hindari, tetapi risikonya bisa kita minimalisir. Paling tidak, jangan sampai ada korban jiwa,” tegas Wali Kota.
Ia menjelaskan, sistem peringatan dini memiliki peran strategis, karena dapat memberikan informasi kepada masyarakat, sebelum kondisi bencana mencapai tingkat yang membahayakan.
Dengan adanya informasi lebih awal, warga memiliki kesempatan untuk mengambil tindakan penyelamatan, dan melakukan evakuasi menuju tempat yang lebih aman.
“Kita harus siap siaga. Kalau air sudah melebihi debit yang rawan, segera mengungsi. Jangan menunggu sampai kondisi menjadi lebih buruk,” ujarnya.
Wali Kota mengatakan, upaya membangun ketangguhan menghadapi bencana tidak dapat dilakukan pemerintah secara sendiri.
Untuk itu, Pemkot Ambon terus membuka ruang kerja sama dengan pemerintah pusat, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku, perguruan tinggi, serta berbagai lembaga yang memiliki perhatian terhadap isu kebencanaan.
“Kolaborasi tersebut, diwujudkan melalui berbagai program mitigasi, baik berupa pembangunan sarana dan prasarana maupun edukasi kepada masyarakat,” ujar dia.
Selain infrastruktur, pemerintah juga telah mendorong terbentuknya kelompok masyarakat, yang bergerak dalam pengurangan risiko bencana di tingkat desa maupun negeri.
Kelompok-kelompok tersebut diharapkan menjadi bagian penting, dalam menyebarluaskan informasi kebencanaan, sekaligus membantu meningkatkan pemahaman warga mengenai potensi ancaman di lingkungan masing-masing.
“Yang kita bangun bukan hanya alatnya, tetapi juga kesadaran masyarakat. Masyarakat harus tahu apa yang harus dilakukan ketika terjadi bencana,” kata Wali Kota.
Pemkot Ambon juga telah menyiapkan sejumlah instrumen pendukung, antara lain regulasi, peta risiko bencana, serta kebijakan penanggulangan bencana sebagai bagian dari strategi mitigasi yang terintegrasi.
Wali Kota menilai, pemahaman terhadap sejarah bencana juga menjadi bagian penting dari pendidikan kebencanaan.
Catatan mengenai gempa dan tsunami yang pernah terjadi di Ambon dan wilayah sekitarnya, menurutnya, harus terus disampaikan kepada generasi berikutnya.
Ia menekankan, keberadaan tugu atau monumen tsunami tidak semata-mata dimaknai sebagai bangunan fisik, tetapi harus mampu menjadi sarana edukasi bagi masyarakat.
“Ini mesti menjadi pengingat. Setiap kali kita melihat tugu itu, kita diingatkan bahwa pernah terjadi tsunami di sini,” ungkapnya.
Dengan demikian, masyarakat diharapkan tidak hanya mengetahui sejarah bencana, tetapi juga terdorong mempelajari langkah penyelamatan diri, serta memahami jalur dan lokasi evakuasi apabila bencana kembali terjadi.
Dalam kesempatan tersebut, selain meresmikan fasilitas peringatan dini tsunami, pemerintah juga memasang perangkat early warning system, untuk mendeteksi potensi banjir akibat peningkatan debit air.
Wali Kota meminta masyarakat, untuk ikut bertanggung jawab menjaga seluruh perangkat yang telah dibangun, melalui kerja sama pemerintah dan berbagai mitra tersebut.
Ia mengingatkan, sistem peringatan dini hanya akan memberikan manfaat, apabila seluruh perangkat dapat berfungsi dengan baik saat kondisi darurat.
“Alat-alat ini mahal dan dipasang, untuk menjaga kita semua. Saya titip kepada bapak dan ibu serta seluruh warga untuk menjaganya,” tegasnya.
Menurut Wali Kota, tindakan merusak maupun mengambil bagian dari fasilitas tersebut bukan hanya merugikan pemerintah, tetapi juga dapat membahayakan keselamatan masyarakat, karena sistem tidak dapat bekerja secara optimal ketika dibutuhkan.
Ia berharap, masyarakat dapat menjadi bagian dari upaya pemeliharaan fasilitas mitigasi bencana, dengan menjaga perangkat yang berada di lingkungan mereka.
Wali Kota juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pembangunan, dan pemasangan sistem peringatan dini tersebut.
Menurutnya, dukungan lintas sektor menjadi modal penting, dalam memperkuat ketahanan Kota Ambon terhadap berbagai ancaman bencana.
“Kolaborasi seperti ini harus terus kita lakukan. Tujuannya satu, bagaimana kita mengurangi risiko bencana dan menyelamatkan masyarakat,” tutup Wali Kota.




