
Lapas Kelas III menjalankan program pengembangan budaya literasi yang berkelanjutan. Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai mengutamakan penguatan pembinaan kepribadian Warga Binaan, melalui program pengembangan budaya literasi yang berkelanjutan.
Upaya ini dilakukan dengan memaksimalkan peran Perpustakaan Lapas, sebagai pusat edukasi dan pembelajaran yang mendukung proses perbaikan diri, serta kesiapan mereka untuk kembali ke lingkungan masyarakat.
Perpustakaan yang telah disiapkan dengan fasilitas kondusif menyediakan ragam koleksi bacaan yang komprehensif. Mulai dari buku yang membahas pengetahuan umum, ajaran keagamaan, keterampilan praktis yang dapat diterapkan di kehidupan sehari-hari, hingga buku motivasi yang bertujuan untuk membangkitkan semangat dan tekad perbaikan diri.
Ketersediaan koleksi tersebut membuat Warga Binaan memiliki pilihan untuk mengisi waktu luang dengan aktivitas positif, sekaligus mengasah kemampuan berpikir kritis dan memperluas wawasan.
Dalam keterangannya, Selasa (10/2/2026), Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya menegaskan, bahwa literasi bukan hanya tentang menambah pengetahuan semata.
“Melalui aktivitas membaca dan pemanfaatan perpustakaan, kami berkomitmen, untuk memastikan setiap Warga Binaan mendapatkan akses yang layak terhadap pendidikan. Literasi menjadi dasar penting, dalam membangun kesadaran diri, rasa tanggung jawab, dan kemampuan mereka untuk beradaptasi kembali di masyarakat,” jelasnya.
Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai, Merpaty S. Mouw menambahkan, bahwa program literasi telah menjadi salah satu pilar utama pembinaan di lembaga tersebut. Tim pembina secara berkala memberikan arahan dan motivasi agar membaca menjadi kebiasaan yang melekat.
“Perpustakaan bukan sekadar tempat, untuk meminjam buku, melainkan ruang yang aman bagi mereka untuk merenung, belajar hal baru, dan mengembangkan potensi diri masing-masing,” ujarnya.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, memberikan apresiasi tinggi terhadap langkah inovatif yang dilakukan Lapas Wahai.
Menurutnya, upaya penguatan budaya baca sejalan dengan visi pemasyarakatan nasional, yang bertujuan mencetak individu yang mandiri, berpengetahuan, dan memiliki karakter yang baik.
“Literasi adalah kunci untuk membangun daya intelektual Warga Binaan. Inisiatif yang dilakukan Lapas Wahai merupakan contoh praktik terbaik yang perlu terus dikembangkan, mengingat manfaatnya sangat signifikan bagi masa depan mereka,” jelasnya.
Salah satu Warga Binaan yang mengikuti program ini, yang hanya dikenal dengan inisial AD, menyampaikan pengalaman positifnya.
Ia mengaku, kegiatan membaca di perpustakaan telah mengubah pandangannya terhadap masa tinggal di Lapas.
“Saat ini saya lebih bersemangat untuk belajar dan membaca berbagai buku. Banyak hal baru yang saya pelajari, mulai dari cara mengelola kehidupan hingga keterampilan yang bisa saya gunakan nantinya, untuk bekerja dan menjadi orang yang lebih baik bagi keluarga serta masyarakat,” ucapnya dengan penuh harapan.
Melalui program literasi yang dijalankan dengan pendekatan humanis, Lapas Wahai berharap dapat membentuk Warga Binaan yang tidak hanya siap secara hukum untuk kembali ke masyarakat, tetapi juga memiliki kualitas pribadi yang unggul dan mampu berkontribusi positif bagi lingkungan sekitarnya.




