
Lapas Kelas III Wahai menggelar ibadah perayaan Rabu Abu bagi Warga Binaan beragama Kristen, yang berlangsung secara virtual di Gereja Ebenhaezer Lapas Wahai, Rabu (18/2/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai melanjutkan upaya peningkatan pembinaan mental dan spiritual dengan menyelenggarakan ibadah perayaan Rabu Abu bagi Warga Binaan beragama Kristen. Kegiatan, yang berlangsung secara virtual di Gereja Ebenhaezer Lapas Wahai, Rabu (18/2/2026), menandai dimulainya masa pertobatan dan puasa selama 40 hari menjelang Paskah, dengan mengusung tema “Ketaatan dalam Hidup”.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menyatakan, ibadah ini dirancang untuk menguatkan nilai-nilai keagamaan dan membentuk karakter para Warga Binaan agar lebih disiplin serta patuh, baik terhadap ajaran agama maupun peraturan yang berlaku di lembaga.
“Kami berkomitmen, untuk memenuhi kebutuhan spiritual seluruh lapisan Warga Binaan. Melalui tema yang kami angkat, diharapkan mereka dapat memaknai masa Pra-Paskah sebagai momen, untuk melakukan perubahan perilaku yang berarti, yang nantinya akan menjadi pondasi kuat ketika mereka kembali berintegrasi dengan masyarakat,” jelasnya.
Tersih juga menyoroti, bahwa tahun ini menjadi periode yang penuh hikmah dengan berjalannya berbagai perayaan keagamaan secara berurutan, mulai dari Imlek yang baru saja berlalu, Pra-Paskah saat ini, hingga bulan Ramadan yang akan tiba.
“Kita disuguhi harmoni kalender lintas iman yang luar biasa. Semoga setiap momen ini dapat memperkuat suasana Lapas yang penuh kedamaian, saling menghormati, dan berbasis pada nilai kemanusiaan,” harap dia.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro memberikan apresiasi tinggi terhadap konsistensi program pembinaan yang dilakukan Lapas Wahai.
Ia menegaskan bahwa pembinaan kepribadian harus selalu diimbangi dengan pembinaan toleransi antar umat beragama.
“Ketika Warga Binaan Kristiani sedang memaknai makna ketaatan melalui Rabu Abu, kami juga telah mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut bulan suci Ramadan. Tujuan utama adalah, agar Warga Binaan Muslim dapat menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk dan penuh keberkahan. Semoga kedua momen keagamaan ini dapat menjadikan seluruh Warga Binaan sebagai insan yang lebih baik, memiliki keimanan yang kuat, dan bertakwa kepada Sang Pencipta,” pesannya.
Ibadah virtual pada kesempatan tersebut dipimpin oleh Pendeta Daniel Alexander dari Yayasan Pendidikan Warga Binaan Cahaya Kasih.
Dalam khotbahnya, ia menekankan bahwa masa Pra-Paskah adalah waktu yang tepat bagi para Warga Binaan untuk meneladani sikap ketaatan Kristus, sekaligus meningkatkan disiplin diri dalam menjalani proses pertobatan dan memperbaiki perilaku selama masa pembinaan di Lapas.
Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti seluruh rangkaian ibadah. Para Warga Binaan menyadari bahwa simbol Rabu Abu, manusia berasal dari debu dan akan kembali ke debu, menjadi pengingat akan pentingnya hidup dengan penuh rasa takut akan Tuhan serta melakukan perubahan untuk menjadi pribadi yang lebih baik.







