
Lapas Wahai mengembangkan pembibitan tanaman tomat varietas unggul menggunakan metode konvensional, dengan media polybag, di area kebun hidroponik, Kamis (16/4/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai kembali menunjukkan komitmennya, dalam mendukung kemandirian pangan, melalui program pembinaan bagi warga binaan.
Kali ini, Lapas Wahai mengembangkan pembibitan tanaman tomat varietas unggul menggunakan metode konvensional, dengan media polybag, di area kebun hidroponik, Kamis (16/4/2026).
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya menyatakan, metode polybag dipilih karena dinilai efektif untuk mengatasi keterbatasan lahan, sekaligus menjadi solusi praktis dalam pertanian skala kecil maupun perkotaan (urban).
“Penggunaan polybag sangat sesuai untuk lahan sempit, namun tetap efisien. Metode ini juga semakin populer, karena mudah diterapkan dan hasilnya cukup optimal, seperti halnya hidroponik,” ujar Tersih.
Ia menegaskan, bahwa program tersebut merupakan bagian dari upaya pembinaan kemandirian, yang terus didorong pihak Lapas Wahai, agar warga binaan memiliki keterampilan produktif selama menjalani masa pembinaan.
“Kami ingin warga binaan aktif dalam kegiatan positif dan inovatif. Harapannya, ilmu yang mereka dapatkan bisa menjadi bekal saat kembali ke masyarakat, terutama bagi yang memiliki keterbatasan lahan. Ini juga menjadi langkah nyata mendukung kemandirian pangan ke depan,” jelasnya.
Sementara itu, staf pembinaan Lapas Wahai, Frans Tepal mengungkapkan, bahwa sebanyak 735 bibit tomat tengah dibudidayakan dalam program tersebut. Dari jumlah itu, potensi hasil panen diperkirakan mencapai sekitar 50 kilogram dalam satu siklus panen.
“Panen dilakukan secara bertahap dengan frekuensi hingga 15 kali. Tanaman tomat umumnya mulai bisa dipanen pada usia sekitar dua bulan, dan terus berproduksi hingga masa produktifnya berakhir,” terangnya.
Antusiasme juga datang dari warga binaan yang terlibat langsung dalam kegiatan tersebut. Salah satu warga binaan berinisial DS mengaku senang, dapat kembali mengikuti program pertanian, yang dinilai bermanfaat.
“Kegiatan ini membuat kami lebih semangat. Apalagi sebelumnya kami juga pernah menanam tomat dan hasilnya sangat memuaskan,” ungkapnya.
Program pembibitan tomat ini menjadi bagian dari upaya Lapas Wahai dalam mengoptimalkan fungsi pemasyarakatan, tidak hanya sebagai tempat pembinaan, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan, yang mendorong warga binaan menjadi pribadi mandiri dan produktif.
“Ke depan, hasil panen dari program ini diharapkan tidak hanya memenuhi kebutuhan dapur Lapas sebagai bentuk kemandirian pangan, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap pemenuhan pangan lokal bagi masyarakat sekitar,” harap dia.




