
Warga binaan beragama Kristiani di Lapas Wahai, saat mengikuti ibadah Minggu, Minggu (10/5/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Suasana khidmat menyelimuti Gereja Ebenhaizer, di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, saat Warga Binaan (WB) beragama Kristiani mengikuti ibadah Minggu, Minggu (10/5/2026).
Kegiatan ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, tetapi menjadi ruang pembinaan spiritual untuk membangun harapan, dan memperkuat iman selama menjalani masa pembinaan.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya mengatakan, pembinaan kerohanian memiliki peran penting, dalam membentuk karakter dan mental warga binaan.
“Kami berharap, warga binaan mengalami perubahan hidup yang positif, memiliki pengharapan baru, dan makin mendekatkan diri kepada Tuhan, selama menjalani pembinaan di Lapas,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, menurut dia, Lapas Wahai menegaskan komitmennya, menghadirkan pembinaan yang tidak hanya berfokus pada kedisiplinan, tetapi juga penguatan mental dan spiritual, agar warga binaan siap kembali ke tengah masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik.
Senada dengan itu, Kepala Subseksi Pembinaan, Merpaty Susana Mouw menjelaskan, program kerohanian terus diperkuat sebagai bagian dari pembinaan kepribadian di Lapas Wahai.
“Pembinaan spiritual memberikan dampak yang baik terhadap perilaku warga binaan. Mereka menjadi lebih tenang, disiplin, dan memiliki semangat, untuk memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik,” katanya.
Apresiasi terhadap konsistensi pembinaan kerohanian juga disampaikan Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Dwi Ricky Biantoro.
Menurutnya, kegiatan keagamaan menjadi bagian penting dalam proses pembinaan warga binaan, agar siap kembali ke masyarakat.
“Kegiatan keagamaan merupakan bagian penting, dalam proses pembinaan kepribadian warga binaan. Kami mendukung penuh seluruh jajaran pemasyarakatan, untuk terus menghadirkan pembinaan yang humanis, spiritual, dan bermanfaat bagi proses reintegrasi sosial Warga Binaan,” tuturnya.
Ibadah dipimpin oleh M. Lesnussa dengan khotbah yang diangkat dari Ulangan 6:1-9 bertema “Kasih Allah adalah Perintah yang Utama”.
Dalam khotbahnya Lesnussa mengajak warga binaan, untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan serta menjadikan kasih kepada Tuhan, sebagai dasar perubahan hidup ke arah yang lebih baik.
Momentum ibadah tersebut menjadi sarana penguatan iman, sekaligus membangun optimisme baru bagi para warga binaan, selama menjalani masa pembinaan di Lapas.




