
Ibadah Minggu yang diikuti oleh warga binaan yang beragama Kristen dan Katolik, di Gereja Ebenhaezer, Minggu (17/5/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus dimaknai secara mendalam di lingkungan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, melalui pelaksanaan ibadah Minggu yang diikuti oleh Warga Binaan (WB) yang beragama Kristen dan Katolik, di Gereja Ebenhaezer, Minggu (17/5/2026).
Ibadah berlangsung dengan khidmat, diisi dengan rangkaian puji-pujian, doa bersama, serta perenungan firman Tuhan mengenai makna hakiki Kenaikan Yesus Kristus.
Kegiatan tersebut menjadi bagian penting dari program pembinaan mental dan spiritual, yang terus dijalankan secara rutin oleh pihak Lapas Wahai bagi seluruh warga binaan.
Kepala Seksi Pembinaan, Merpati S. Mow menegaskan, bahwa pembinaan kerohanian memiliki peran yang sangat strategis, dalam membentuk karakter serta mendorong perubahan perilaku positif di kalangan warga binaan.
“Di balik jeruji besi, masa menjalani pidana justru kami optimalkan, sebagai ruang perbaikan diri yang sesungguhnya. Peristiwa Kenaikan Yesus Kristus mengajarkan tentang makna pengharapan, pengorbanan, dan kesempatan untuk bangkit kembali. Kami terus berupaya memfasilitasi segala kebutuhan rohani, agar warga binaan dapat merefleksikan diri, meningkatkan keimanan, serta bertekad memperbaiki perilaku mereka,” ujarnya.
Pada kesempatan yang sama, Maureen Gian Pattisinay juga hadir memberikan pesan motivasi kepada para warga binaan, agar mereka tidak mudah menyerah pada keadaan, melainkan menjadikan masa hukuman ini sebagai proses transformasi diri menuju kehidupan yang jauh lebih baik di masa mendatang.
“Kenaikan Yesus ke surga membawa pesan abadi, bahwa selalu ada tempat dan harapan bagi siapa saja yang mau bertobat dan berbenah. Janganlah memandang masa lalu atau dinding penjara ini sebagai akhir dari segalanya, melainkan jadikanlah tempat ini sebagai sarana penempaan iman yang kokoh. Di sinilah, Tuhan sedang merajut kembali masa depan kalian yang sempat koyak,” pesannya.
Sementara itu, Pelaksana Harian Kepala Lapas Wahai, La Joi menyampaikan apresiasi yang tinggi atas antusiasme luar biasa, yang ditunjukkan oleh para warga binaan dalam mengikuti seluruh rangkaian kegiatan keagamaan tersebut hingga selesai.
Menurutnya, perubahan perilaku yang sejati dan bertahan lama haruslah bermula dari kesadaran diri, serta keteguhan hati yang tumbuh dari dalam setiap individu.
“Kami selaku jajaran pemasyarakatan bertugas dan berkewajiban menyediakan wadah serta sarana yang memadai, namun kesungguhan hati untuk benar-benar berubah itu semata-mata berada pada diri warga binaan sendiri. Melalui momentum peringatan Kenaikan Yesus Kristus ini, kami berharap fondasi kerohanian yang dibangun di dalam Lapas dapat membentengi mereka, sehingga kelak tidak akan mengulangi kesalahan yang sama, saat kembali hidup bermasyarakat nanti,” katanya.
Melalui program penguatan mental dan spiritual yang dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan ini, menurut La Joi, Lapas Wahai kembali menunjukkan komitmennya yang kuat dalam menjadikan masa pembinaan, sebagai awal yang baru menuju kehidupan yang lebih baik, bermakna, dan bermanfaat.
Suasana yang penuh kedamaian serta optimisme tampak jelas terpancar dari raut wajah para warga binaan yang mengikuti ibadah tersebut dengan tertib.






