
Warga binaan Lapas Kelas III Wahai menggarap pembuatan replika kapal tradisional Pinisi berbahan dasar limbah kayu bekas, Kamis (21/5/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai kembali menunjukan kreativitas dan produktivitas tinggi, lewat pembuatan kerajinan tangan yang memiliki nilai seni dan ekonomi.
Bertempat di bengkel kerja Lapas Wahai, para Warga Binaan mulai menggarap pembuatan replika kapal tradisional Pinisi berbahan dasar limbah kayu bekas, Kamis (21/5/2026).
Aktivitas ini merupakan bukti konsistensi pelaksanaan program pembinaan kemandirian, yang terus digalakkan pihak Lapas Wahai.
Dengan memanfaatkan potongan kayu sisa yang sebelumnya tidak terpakai dan terabaikan, para warga binaan bekerja secara teliti dan penuh ketelatenan, mulai dari proses pemotongan, pengamplasan, hingga membentuk pola dasar lambung kapal, agar menghasilkan detail yang presisi, rapi, dan memiliki nilai estetika tinggi.
Petugas pengawas kegiatan, Andhika Panayungan mengatakan, para Warga Binaan di lingkungan binaannya memiliki potensi besar, dalam menghasilkan karya kerajinan bernilai jual, meskipun memanfaatkan bahan dasar yang sederhana dan didapatkan secara cuma-cuma.
“Meski menggunakan bahan dasar kayu bekas yang awalnya dianggap sampah atau barang tidak berguna, namun lewat ketelatenan dan jemari kreatif mereka, bahan ini siap disulap menjadi karya seni yang terlihat mewah, rapi, indah, dan pastinya bernilai jual,” ujar Andhika.
Program kerajinan tangan ini menjadi salah satu bentuk nyata pembinaan keterampilan kerja bagi para Warga Binaan. Tujuannya, agar mereka memiliki kemampuan produktif yang mumpuni, dan bisa dimanfaatkan sebagai bekal hidup saat nanti kembali bebas ke masyarakat.
Pihak Lapas secara konsisten terus mendorong pemanfaatan material yang ada di lingkungan sekitar, untuk diolah menjadi produk kreatif yang bermanfaat.
Kepala Subseksi Pembinaan, Merpaty S. Mouw menegaskan, pembinaan semacam ini bertujuan ganda, yaitu membekali Warga Binaan dengan keterampilan kerja nyata, sekaligus membangun kembali rasa percaya diri dan harga diri mereka.
“Melalui pembinaan kemandirian yang terus berproses dan berkelanjutan seperti ini, kami berharap mereka memiliki rasa percaya diri yang kuat, serta modal keterampilan kerja yang mumpuni, sehingga bisa mandiri saat menjalani kehidupan kembali di tengah masyarakat setelah bebas nanti,” kata Merpaty.
Sementara itu, Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas III Wahai, Tersih Victor Noya memberikan apresiasi tinggi atas semangat, ketekunan, dan kreativitas para Warga Binaan, dalam menghasilkan karya seni yang indah hanya bermodalkan bahan bekas.
Menurutnya, produktivitas yang terus terjaga dan meningkat di dalam lingkungan lapas membuktikan, bahwa segala keterbatasan fasilitas atau ruang gerak bukanlah penghalang untuk tetap berkarya, berinovasi, dan menciptakan produk bernilai ekonomi.
“Kami akan terus berkomitmen memfasilitasi segala kebutuhan pembinaan, dan berupaya secara maksimal membantu memasarkan produk-produk hasil karya mereka, agar semakin dikenal luas oleh masyarakat dan memiliki daya saing,” tutur Tersih Victor Noya.
Proses pembuatan replika kapal Pinisi yang ikonik tersebut ditargetkan akan rampung dan selesai dikerjakan, dalam beberapa pekan ke depan.
“Nantinya, hasil karya tangan para Warga Binaan ini direncanakan akan dipamerkan, dalam berbagai ajang pameran produk unggulan hasil karya narapidana, dan warga binaan di tingkat daerah maupun nasional,” tandas dia.






