
Matahari belum sempat menampakkan bayangnya di ufuk timur, desir angin hutan tropis seakan menyanyi merdu menyambut hari yang baru. Alam senantiasa menyajikan keindahan tersendiri bagi setiap pasang mata yang memandang
Dihuni warga suku MOI (Kelim), memiliki hutan konservasi, keanekaragaman hayati dan keindahan alam yang mempesona, kampung Malasigi yang berada di distrik Klayili kabupaten Sorong Provinsi Papua Barat Daya, dikenal dengan Village, bird of paradise atau kampung, burung Cendrawasih. Tempat ini menyimpan cerita tentang harapan dan impian. Disamping kekayaan alamnya yang luar biasa, minimnya ketersediaan air bersih, listrik, dan infrastruktur menjadi kerinduan masyarakat bagai air yang mengalir dengan ritme yang tenang penuh perjuangan.
Sebelum fajar merona, warga harus mengangkut air dari sungai menggunakan ember dengan berjalan kaki menuju rumah. Ketika malam hari, warga juga beraktivitas dan tidur menggunakan lampu sumbu atau obor sebagai penerang. Kegiatan itu terus menerus dilakukan setiap hari hingga secercah harapan datang di tahun 2022 ketika Pertamina EP Papua Field, Zona 14 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina hadir melakukan perubahan.
Malasigi Berdikari
Melalui programnya, Pertamina EP Papua Field melaksanakan Corporate Social Responsibility (CSR), dengan menyediakan mesin atau pompa yang menyedot air langsung dari sumber mata air yang berjarak sekitar kurang lebih 800 meter dari lokasi penampungan dan penyaringan sebelum ke rumah warga. Mesin tersebut digerakkan menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 8.700 kWp, dengan dukungan baterai 10 kWh yang beroperasi 1,24 jam tanpa suara bising seperti mesin genset. Mesin pompa juga dilengkapi inovasi Filter Terapis (filter pelepah pisang) yang ramah lingkungan yang dikembangkan untuk membantu menjernihkan air bagi warga yang bermukim disana. Yang mana pengelola dikelola bersama oleh masyarakat setempat melalui Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD) Beleape.
Selain air, PLTS 8.700 kWp itu juga berfungsi menerangi rumah warga yang disebut Malasigi Bersinar, padahal sebelumnya warga beraktivitas di malam hari, dan tidur menggunakan lampu sumbu. Kini, terang itu bukan lagi sekadar impian. Kendati demikian, alam kerap memberi ujian tersendiri. Saat musim kemarau panjang sungai Klasani tak jarang mendadak kering. Saat itulah warga terpaksa kembali mengandalkan air hujan atau menyusuri lebatnya hutan demi mendapatkan air.
Untuk diketahui, sejak diusulkan menjadi kampung definitif pada tahun 2015, Kampung Malasigi hingga kini masih berstatus kampung persiapan. Semua urusan administratif, pelayanan kesehatan (puskesmas), hingga sekolah menengah, anak-anak harus menempuh jarak jauh dari kampung menuju distrik Klayili.
Meski di balik keterbatasannya, kampung Malasigi menyisipkan surga tersembunyi yang memanjakan mata setiap turis lokal dan mancanegara. Terdapat 131 jenis satwa liar, termasuk 5 jenis burung Cendrawasih, serta berbagai satwa endemik yang sering dilepasliarkan oleh Balai Besar KSDA.
Setidaknya terdapat lima spesies burung Cendrawasih dengan beragam yang langka, seperti:
- Cendrawasih Kecil (Lesser Bird of Paradise)
- Cendrawasih Raja (King Bird of Paradise) 3.Cendrawasih Mati-kawat (Twelve-wired Bird of Paradise)
- Cendrawasih Belah-rotan (Magnificent Bird of Paradise)
- Toowa Cemerlang (Magnificent Riflebird)
Selain itu terdapat burung Paruh Bengkok, Kakatua Koki (Cacatua galerita), Nuri Bayan (Eclectus roratus), Kasturi Kepala Hitam (Lorius lory), Perkici Pelangi (Trichoglossus haematodus). Juga terdapat Reptil seperti, Ular Pohon Coklat (Boiga irregularis), dan berbagai jenis kadal dan ular endemik Papua lainnya. Sungguh alam bekerja dengan caranya sendiri.
Matahati Malasigi
Berbagai program pemberdayaan masyarakat adat dan inovasi sosial yang dikembangkan oleh PT Pertamina EP Papua Field guna mendorong masyarakat adat mengelola hutan, pengembangan ekowisata berkelanjutan, menciptakan sumber penghidupan. Program ini dilatarbelakangi berbagai persoalan sosial dan problem yang dihadapi masyarakat adat, seperti, pengelolaan hak ulayat, ancaman
alih fungsi lahan, keterbatasan akses terhadap kebutuhan dasar, serta peningkatan ekonomi masyarakat adat.
Masyarakat adat Malasigi juga diajarkan tentang pentingnya pengelolaan Hutan dan Ekonomi melalui pengembangan inovasi pemanfaatan sumber daya alam (seperti Revitaleaf (pemanfaatan pelepah pisang) serta mendukung pariwisata ilmiah (ekowisata pengamatan burung cendrawasih/burung dari surga).
PT Pertamina EP Zona 14 Papua Field yang merupakan bagian dari Regional 4 Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina, menorehkan prestasi melalui program pemberdayaan masyarakat dengan meraih penghargaan Gold pada ajang CSR & PDB (Pengembangan Desa Berkelanjutan) Awards 2026 melalui program Matahati Malasigi. Ajang itu juga merupakan kegiatan kerja sama antara Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dengan Indonesian Social Sustainability Forum (ISSF) merupakan jangka panjang menjaga kelestarian hutan sekaligus memberdayakan masyarakat adat.
Matahati Malasigi dikembangkan di kampung Adat Malasigi, distrik Klayili, kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, dengan menempatkan masyarakat adat sebagai aktor utama dalam pengelolaan potensi wilayah. Program ini mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi, lingkungan, dan kelembagaan dengan tetap berlandaskan pada nilai-nilai dan kearifan lokal masyarakat Moi Kelim.
Pengembangan program berangkat dari pemahaman bahwa hutan bagi masyarakat Malasigi bukan hanya merupakan sumber daya alam, tetapi juga bagian penting dari ruang hidup, identitas, serta sumber penghidupan masyarakat. Karena itu, pengelolaan hutan diarahkan agar tetap menjaga fungsi ekologis sekaligus mampu memberikan manfaat sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
Ubah Limbah Pelepah Pisang Jadi Filter Air Bersih
Bagian dari program Matahati Malasigi, warga kampung kini memiliki solusi inovatif dalam mengatasi keterbatasan. Dalam aktivitas pertanian multikultur setempat, pisang merupakan salah satu komoditas utama yang dipanen sepanjang tahun. Namun, penumpukan limbah pelepah pisang pasca panen sebelumnya berpotensi memicu masalah lingkungan, mulai dari pembusukan, potensi gas rumah kaca, hingga timbulnya penyakit.
Sebelumnya, pelepah pisang hasil pasca panen kerap dibiarkan menumpuk hingga membusuk menjadi sampah organik, sampah itu menyumbang emisi gas metana. Kini, limbah pelepah pisang tersebut diolah menjadi sebuah media filtrasi air alami yang biodegradable. Sistem ini dimanfaatkan warga Kampung Malasigi untuk menyaring air sungai yang sebelumnya dikonsumsi langsung, tanpa pengolahan berlebih sehingga masyarakat dapat menikmati akses air bersih yang lebih layak dan higienis.
Penerapan konsep zero waste dan energi terbarukan ini tak hanya menjaga kelestarian ekosistem hutan tropis di kampung Malasigi, tetapi juga memperkuat keberlanjutan sektor ekowisata berbasis masyarakat di desa tersebut. Langkah nyata ini menempatkan masyarakat adat Suku Moi Kelim sebagai subjek utama pembangunan yang mandiri dan berwawasan lingkungan.
Masyarakat kampung Adat Malasigi mengaku sangat terbantu dan menyambut positif berbagai program bantuan (CSR) serta pendampingan yang disalurkan oleh Pertamina EP Field.
Yoel Fami, salah seorang warga kampung Malasigi mengungkapkan rasa senang dan apresiasi masyarakat atas kepedulian yang terus diberikan Pertamina. Bantuan tersebut mencakup pemenuhan kebutuhan dasar seperti fasilitas air bersih, lampu penerangan melalui PLTS.
“Kami warga kampung Adat Malasigi sangat senang sekali dengan kehadiran Pertamina. Selama ini Pertamina sudah banyak membantu kami. Dulu kami masih ambil air pakai timba dari sungai untuk dibawa ke rumah buat masak, kamar mandi dan sebagainya. Sekarang lewat bantuan Pertamina, kami bisa dapat air dengan layak, tinggal putar kran air langsung keluar,” ujar Yoel Fami.
Penyuluhan Kesehatan di Kampung Adat Malasigi
Selain akses air bersih dan penerangan, Pertamina EP Field juga aktif menyelenggarakan penyuluhan kesehatan bagi warga serta pelatihan dan praktik pemadam kebakaran. Penyuluhan kesehatan di kampung Malasigi umumnya berfokus pada program preventif kesehatan masyarakat pedalaman. Wilayah ini berada di kawasan hutan tropis yang juga dikenal sebagai desa ekowisata.
Penyuluhan dan edukasi kesehatan di wilayah ini biasanya mencakup beberapa program utama:
- Edukasi Pencegahan dan Eliminasi Malaria
- Mengingat Papua merupakan salah satu wilayah dengan endemisitas malaria, penyuluhan pencegahan penyakit menular menjadi prioritas utama.
- Strategi Edukasi mengenai gerakan Temukan, Obati, dan Kendalikan. Warga diajak untuk melakukan pemeriksaan darah secara berkala, menghabiskan obat malaria secara tuntas jika positif, serta mengendalikan lingkungan sekitar rumah.
- Pemberantasan Sarang Nyamuk: Penyuluhan pentingnya tidur menggunakan kelambu terstruktur dan menjaga kebersihan air agar tidak ada tempat nyamuk berkembang biak.
- Penerapan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
- Kesehatan Lingkungan: Edukasi akses air bersih dan menjaga sanitasi sekitar hutan pemukiman.
- Kesehatan Gigi dan Mulut: Demonstrasi cara menyikat gigi yang baik dan benar, yang biasanya ditargetkan untuk anak-anak sekolah atau anak-anak usia dini di kampung.
Melalui program seperti Mata Hati Malasigi yang didukung oleh mitra pengembang ekowisata, peningkatan kapasitas masyarakat adat tidak hanya menyentuh sektor lingkungan, tetapi juga kemandirian dalam menjaga kebersihan lingkungan desa wisata agar tetap sehat bagi warga maupun wisatawan.
Pertamina EP Dukung Kampung Malasigi Tarik Wisatawan
PT Pertamina EP (PEP) Papua Field terus menunjukkan komitmennya dalam pemberdayaan masyarakat adat, dengan pelestarian lingkungan di sekitar wilayah operasinya. Melalui Program Matahati Malasigi, PEP Papua Field mendukung Kampung Adat Malasigi di distrik Klayili, kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, menjadi destinasi ekowisata berbasis masyarakat yang makin diminati wisatawan.
Kampung Adat Malasigi yang dihuni oleh masyarakat adat Suku Moi Kelim memiliki potensi keanekaragaman hayati yang sangat tinggi seperti. Malasigi juga terkenal dengan pemandian Air Panas Belempe dan Goa Wo’ batiwala. Berkat keberhasilan pengelolaannya yang berkelanjutan, kampung Malasigi berhasil meraih Juara 1 Kategori Desa Wisata Rintisan pada Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) 2024.
Noken dan Keripik Pisang Jadi Usaha
Pisang merupakan komoditas hortikultura yang memiliki potensi tinggi sebagai sumber pangan dan produk olahan bernilai ekonomi
Pertamina terus berupaya mendukung kemandirian warga melalui ekonomi kreatif, yang sejalan dengan semangat membangun desa mewujudkan pemerataan ekonomi.
Di kampung Malasigi, warga diajarkan memanfaatkan hasil tanaman pisang dari pemanfaatan lahan kosong di sekitar kampung. Buah pisang dibuat menjadi keripik, selain keripik pisang, mama-mama di kampung Malasigi juga memproduksi kerajinan tangan lokal seperti noken yang akan ditawarkan (jual) kepada wisatawan yang berkunjung kesana. Tentunya, Pertamina EP Papua terus melakukan pendampingan pelatihan, pengolahan, serta pemasaran.
Field Manager PT Pertamina EP Papua Field, Ir. Ardi, S.T., M.T., M.Si., IPU., Asean Eng., menyampaikan, bahwa dukungan ini merupakan bagian dari upaya mendorong kemandirian dan kesejahteraan masyarakat adat tanpa mengesampingkan kelestarian lingkungan.
“Melalui Program Matahati Malasigi, kami berfokus pada penguatan kapasitas masyarakat adat dalam mengelola hutan secara lestari dan berbasis ekowisata. Kami ingin menciptakan sumber penghidupan berkelanjutan bagi masyarakat sekaligus menjaga keanekaragaman hayati yang ada di kawasan ini,” ujar Ir. Ardi.
Menurutnya, ini merupakan program kemitraan strategis dengan Pemerintah Daerah Provinsi Papua Barat, Pemerintah Daerah kabupaten Sorong, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Papua Barat Daya, Balai Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Maluku Papua (BPSKL), Kelompok Pengelola Hutan Kabupaten Sorong (KPH), Fauna & Flora International tanah Papua dan LSM Kasuari Tanah Papua.
Pertamina EP Papua Field berharap Kampung Malasigi dapat terus berkembang menjadi model percontohan desa wisata berbasis konservasi dan pemberdayaan masyarakat di Tanah Papua.
Akses Jalan Jadi Perhatian Bersama
Berjarak sekitar 55 kilometer dari kota Sorong ibukota Provinsi Papua Barat Daya, jalan merupakan urat nadi kehidupan, jika akses jalan mulus potensi ekowisata Cendrawasih di kampung Malasigi akan semakin bersinar. Selain itu, anak-anak dapat bersekolah dengan mudah, kesejahteraan masyarakat adat di jantung Papua Barat Daya ini dapat terwujud bukan lagi sekadar impian di batas fajar.
Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif terus berkomitmen untuk mendukung dan mempromosikan Kampung Wisata Malasigi, kabupaten Sorong. Sebagai desa wisata yang berhasil meraih Juara 1 Nasional Desa Wisata tahun 2024, potensi pariwisata Malasigi dinilai sangat luar biasa dan memberikan dampak ekonomi positif bagi masyarakat setempat.
Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo, menyatakan bahwa pihaknya bersama berbagai pemangku kepentingan (stakeholders) seperti pemerintah kabupaten Sorong, NGO Flora Fauna, hingga Pertamina terus berkolaborasi untuk mendorong kemajuan Kampung Malasigi.
“Tugas kita ke depan adalah terus mempromosikan Malasigi, membantu peningkatan kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM), serta mempermudah akses wisatawan yang ingin datang,” ujar Yusdi.
Yusdi menjelaskan bahwa upaya peningkatan kualitas SDM di Kampung Malasigi telah menunjukkan hasil nyata. Pihaknya baru saja menyelesaikan program sertifikasi bagi para pemandu wisata (tour guide) setempat agar memenuhi standar nasional.
Upaya promosi dan pembinaan yang dilakukan secara konsisten pun membuahkan hasil manis. Berdasarkan laporan terbaru, tingkat kunjungan wisatawan di kampung Malasigi saat terus mengalami peningkatan.
“Beberapa waktu lalu kami berdiskusi dengan teman-teman dari Malasigi, dan dilaporkan bahwa saat ini lagi banyak tamu di sana. Ini artinya semua proses yang kita bangun sudah membuahkan hasil. Kita berharap peningkatan ini berbanding lurus dengan peningkatan ekonomi masyarakat di Malasigi,” ungkapnya.
Meskipun potensi pariwisata dan kunjungan wisatawan terus meningkat, Yusdi memberikan perhatian khusus terkait tantangan aksesibilitas, terutama kondisi infrastruktur jalan menuju Kampung Malasigi.
Menurutnya, pemerintah sebenarnya telah melakukan perbaikan infrastruktur jalan. Namun, akses jalan tersebut sering kali mengalami kerusakan kembali akibat tingginya mobilitas kendaraan berat.
“Isu utama di sana kan jalan. Kendalanya saat musim hujan, truk-truk pembawa kayu melintas sehingga jalannya rusak lagi. Teman-teman Dinas PU sudah membangun fisiknya, tinggal bagaimana pengawasan penggunaan jalan tersebut agar tidak merusak jalan yang sudah dibangun,” jelas Yusdi.
Yusdi menegaskan bahwa permasalahan akses jalan ini tidak bisa diselesaikan oleh Dinas Pariwisata saja, melainkan membutuhkan kerja sama lintas sektor. Pengawasan terhadap kendaraan bermuatan besar menjadi kunci penting agar akses fisik darat maupun telekomunikasi menuju Kampung Wisata Malasigi tetap baik dan nyaman bagi para wisatawan. (MARNI/BeritaAktual.co)





