Skip to content
BeritaAktual.co

BeritaAktual.co

Terkini, Aktual, Jujur, Independen

Primary Menu
  • Beranda
  • Metro
  • Daerah
    • Maluku
    • Daerah
    • Pemerintahan
    • Nasional
  • Hukrim
  • Internasional
  • Ekbis
    • Ekonomi & Bisnis
  • Aktual
    • Aktual
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Peristiwa
  • Politik
  • Feature
    • Feature
    • OPINI
    • Pariwisata
    • Tekno
  • REDAKSI
  • IKLAN
  • TMMD

Beranda Beranda » Pariwisata

  • Pariwisata

Masyarakat Adat Suku Kawei Bangkit, Tolak Kehadiran Greenpeace dan Antek-anteknya

Marni Sabtu, 27 September 2025 3 min read

Bagikan ini:

  • Klik untuk membagikan di Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Klik untuk berbagi di X(Membuka di jendela yang baru) X
IMG-20250927-WA0039
Bagikan berita ini
        

 

KOTA SORONG, BeritaAktual.co – Suara lantang menggema dari Kampung Selpele, Distrik Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Masyarakat adat Suku Kawei menegaskan penolakan keras terhadap keberadaan Greenpeace yang dituding mengganggu kedaulatan adat mereka.

Spanduk besar bertuliskan “Save Masa Depan Suku Kawei, Tolak Greenpeace dan Antek-anteknya di seluruh hak ulayat Suku Kawei” kini terpasang di Pulau Wayag dan sejumlah titik strategis di Raja Ampat.

Bagi masyarakat Kawei, Greenpeace bukanlah penyelamat lingkungan, melainkan “musuh” yang menghambat akses mereka menuju kesejahteraan melalui tambang nikel yang dikelola oleh PT Kawei Sejahtera Mining (KSM).

“Mereka datang secara diam-diam seperti maling, tanpa permisi kepada kami sebagai pemilik hak ulayat yang sah,” tegas Yustus Ayei, tokoh masyarakat adat Kawei, dalam orasi yang disambut sorak dukungan warga belum lama ini

Gelombang Penolakan yang Mengeras Penolakan Greenpeace sebenarnya bukan baru sekali. Namun kali ini, intensitasnya lebih keras. Masyarakat dari empat marga adat, Daat, Ayelo, Arempele, dan Ayei, bersatu menuding organisasi internasional itu melakukan propaganda “keji” tanpa menghormati tatanan adat.

Tokoh perempuan adat, Dina Ayelo, menyebut tuduhan Greenpeace soal kerusakan konservasi hanyalah fitnah. “Apa yang dilakukan Greenpeace penuh propaganda. Kami sudah sejahtera dengan apa yang ada sekarang. Greenpeace jangan coba-coba masuk ke tanah ulayat kami,” kata Dina.

Tokoh Pemuda Adat, Luther Ayelo, bahkan melontarkan kecaman keras terhadap organisasi kampanye lingkungan independen global tersebut. Mereka juga menutup akses ke Pulau Wayag yang merupakan ikon pariwisata Raja Ampat, saat pemerintah pusat menutup operasi tambang.

“Karena perusahaan kami ditutup, maka Pulau Wayag juga kami tutup,” ujarnya Luther

Saat melakukan penutupan akses wisata Pulau Wayag belum lama ini, data dan Fakta dari PT KSM, sikap keras masyarakat Kawei diperkuat dengan data resmi manajemen PT KSM yang menegaskan keberadaan tambang nikel di Pulau Kawei bukanlah ilegal.

Perusahaan mengklaim telah memenuhi seluruh regulasi dan melaksanakan tanggung jawab sosial. Enam poin berikut menjadi dasar klaim mereka:

1. Legalitas Tata Ruang

Pulau Kawei telah ditetapkan sebagai kawasan pertambangan nikel berdasarkan Perda Provinsi Papua Barat Nomor 3 Tahun 2022 tentang RTRW 2022–2041, serta Perda Raja Ampat Nomor 3 Tahun 2012 tentang RTRW 2011–2030.

2. Izin Lima Kementerian

PT KSM memegang dokumen resmi dari lima kementerian, antara lain:

  • ESDM: SK IUP, RKAB 2024–2026, studi kelayakan, dan jaminan reklamasi.
  • KLHK: Persetujuan AMDAL pusat (Oktober 2024).
  • Kehutanan: Izin penggunaan kawasan hutan (Mei 2021).
  • KKP: PKKPRL (Agustus 2023).
  • Perhubungan: Izin terminal khusus (Januari 2024).

3. Produksi dan Penjualan

Sejak 2023, perusahaan mencatat produksi nikel sebesar 1.513.413 WMT, dengan penjualan mencapai 1.495.928,13 WMT.

4. Komitmen Lingkungan

Perusahaan mengeklaim telah menerapkan manajemen lingkungan, antara lain:

  • Menutup timbunan batuan dengan tanah dan vegetasi untuk mencegah air asam tambang.
  • Menjaga kestabilan lereng tambang.
  • Melaksanakan reklamasi dan revegetasi lahan yang telah ditambang.

5. Pemberdayaan Masyarakat

Dampak sosial menjadi senjata utama PT KSM melawan narasi Greenpeace. Data perusahaan menyebutkan:

  • 83 persen tenaga kerja adalah Orang Asli Papua (OAP).
  • Program beasiswa D-III hingga S-3, termasuk satu mahasiswa program doktor.
  • Bantuan kesehatan penuh, termasuk biaya perjalanan pasien dan keluarga.
  • Renovasi sekolah, pustu, rumah genset, dan subsidi tenaga guru honorer.
  • Program pertanian dan perikanan dengan hasil ditampung perusahaan untuk konsumsi karyawan.

“Anak-anak kami bisa kuliah karena beasiswa dari perusahaan. Kami bisa berobat tanpa pikir biaya. Jadi, kami tahu siapa yang betul-betul bantu kami,” ujar seorang ibu Kawei penerima manfaat.

6. Penolakan Adat terhadap Greenpeace

Selain data teknis, dukungan masyarakat adat adalah nyata. Spanduk-spanduk penolakan Greenpeace kini terpasang di Pulau Wayag hingga kampung Selpele.

Politik Lingkungan dan Tarik Ulur Izin gelombang protes masyarakat adat muncul setelah pemerintah pusat mencabut izin operasional PT KSM. Keputusan itu dinilai mengancam masa depan ratusan keluarga Kawei. Mereka mendesak Kementerian ESDM, KLHK, hingga KKP untuk segera mengembalikan izin tersebut.

“Kami membuat pernyataan ini dengan sebenar-benarnya tanpa paksaan dari pihak manapun,” tegas Yustus.

Gubernur Papua Barat Daya, Elisa, mengaku akan menempuh jalur persuasif. “Saat ini masyarakat masih marah. Karena itu, kami akan masuk dengan pendekatan yang lebih baik,” ujarnya.

Pertarungan Narasi di Jantung Raja Ampat Konflik Greenpeace vs Suku Kawei di Raja Ampat menunjukkan benturan dua narasi besar. Greenpeace membawa agenda global konservasi lingkungan, sementara masyarakat adat Kawei mengedepankan realitas lokal: kebutuhan pendidikan, kesehatan, dan kemandirian ekonomi.

“Kami tidak butuh orang luar datang ajari kami tentang hutan dan laut. Kami tahu cara jaga tanah kami, tapi kami juga butuh hidup lebih baik,” kata seorang nelayan Kawei.

Analisis Pertarungan ini menyingkap dilema klasik Papua: antara konservasi dan pembangunan. Data PT KSM memperlihatkan upaya legalitas, reklamasi, dan program CSR. Namun, gesekan dengan Greenpeace memperlihatkan bahwa isu lingkungan di Raja Ampat tidak bisa dipisahkan dari politik identitas, kedaulatan adat, dan hak masyarakat atas tanah ulayatnya (*/Mar)

Tentang penulis

Masyarakat Adat Suku Kawei Bangkit, Tolak Kehadiran Greenpeace dan Antek-anteknya 2 mystery

Marni

See author's posts

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Terkait

Continue Reading

Previous: Lekransy Ingatkan Orang Tua Soal Ancaman Predator di Ruang Medsos
Next: Aris Balubun Nahkodai Ketua JMSI PBD, Bangun Sinergitas Semua Sektor Jadikan Pers Garda Terdepan

Related News

Screenshot_20250723_215127_Chrome
2 min read
  • Pariwisata

Tingkatkan SDM Sektor Perhotelan dan Restoran, 30 OAP Ikut Uji Kompetensi

Marni Rabu, 23 Juli 2025
Screenshot_20250614_230422_Canva
2 min read
  • Metro
  • Pariwisata

Pulau Wayag Masih Ditutup Dari Aktivitas Pariwisata

Marni Sabtu, 14 Juni 2025
IMG_20240627_012839
2 min read
  • Metro
  • Pariwisata

Pemkot Sorong Siap Kembangkan Wisata Outbond, 40 Orang Peserta Ikuti Pelatihan Berlisensi. 

Marni Kamis, 27 Juni 2024

Berita lainnya

Screenshot_20260116_185840_Chrome
Yayasan Kristen Kalam Kudus Indonesia (YKKI) Cabang Sorong. [Foto: BeritaAktual]
3 min read
  • Pendidikan

Sekolah Kristen Kalam Kudus Sorong Klarifikasi Pemberhentian Siswa MKA

Marni Jumat, 16 Januari 2026
IMG-20251127-WA0010
3 min read
  • Daerah

CCTV Bantu Atasi Masalah Sampah, Lekransy: Perda Akan Ditegakkan

Q Jumat, 16 Januari 2026
IMG-20260115-WA0062
2 min read
  • Daerah

Rumah Korban Konflik Hunuth Siap Ditempati

Q Jumat, 16 Januari 2026
Screenshot_2026-01-16-09-54-56-547_com.android.chrome
2 min read
  • Daerah

Pemkot Ambon Berikan Bantuan Air Bersih ke Warga Terdampak Krisis

Q Jumat, 16 Januari 2026
Copyright ©2025 | BeritaAktual.co | All rights reserved. | MoreNews by AF themes.
%d