
Plt Kepala BPS Kota Ambon, Pauline Gaspersz. Foto-Q/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Laju inflasi Kota Ambon tahun 2025 mencapai 4,23 persen, melampaui target nasional yang ditetapkan dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 31 Tahun 2024, yaitu kisaran 1,5 hingga 3,5 persen. Hal ini membuat inflasi Kota Ambon menjadi yang tertinggi di kawasan Indonesia Timur.
Plt Kepala BPS Kota Ambon, Pauline Gaspersz mengatakan, data tersebut diperoleh dari pemantauan Indeks Harga Konsumen (IHK), yang meliputi 359 komoditas yang menjadi acuan di kota ini.
“Inflasi bulan Desember 2025 sendiri mencapai 0,85 persen, dengan kenaikan tarif angkutan udara menjadi penyumbang terbesar sebesar 0,27 persen,” kata Pauline kepada wartawan, di Balai Kota Ambon, Kamis (15/1/2026).
Menurut Pauline, secara kumulatif, kontribusi utama inflasi berasal dari tiga kelompok pengeluaran yakni; makanan, minuman, dan tembakau sebesar 2,24 persen; perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,76 persen; serta transportasi sebesar 0,77 persen.
Dua komoditas yang paling dominan dalam mendorong kenaikan inflasi adalah, emas perhiasan dengan kontribusi 0,79 persen dan tarif angkutan udara sebesar 0,42 persen.
“Kedua komoditas ini, termasuk dalam kategori yang sulit dikendalikan langsung oleh pemerintah daerah. Tarif angkutan udara sebagai administered price diatur melalui interval harga oleh pemerintah pusat, namun dipengaruhi oleh dinamika pasar seperti musim puncak perjalanan, biaya operasional maskapai, dan kondisi cuaca. Lonjakan ini juga sejalan dengan peningkatan jumlah penumpang di Bandara Pattimura Ambon pada Desember 2025,” ujar Pauline.
Ia juga menambahkan bahwa berdasarkan data Survei Biaya Hidup (SBH) tahun 2022, nilai konsumsi rata-rata rumah tangga di Kota Ambon mencapai Rp9,1 juta per bulan, dengan pengeluaran terbesar pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau (27,20 persen) serta transportasi (16,55 persen).
“Meskipun inflasi pangan tahun 2025 lebih rendah dibandingkan tahun 2024, yaitu 0,26 persen vs 0,44 persen, tekanan dari sektor lain masih cukup signifikan, dan perlu mendapat perhatian serius,” tandas dia.







