
Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisutta menghadiri acara peringatan Tradisi 31 Januari yang digelar di Dusun Hila Tanah Putih, Negeri Tawiri, Sabtu (31/1/2026) siang. Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Wakil Wali Kota Ambon, Ely Toisutta menghadiri acara peringatan Tradisi 31 Januari yang digelar di Dusun Hila Tanah Putih, Negeri Tawiri, Sabtu (31/1/2026) siang.
Acara tahunan ini menjadi bukti, bahwa tali persaudaraan antar warga Maluku tetap kokoh meskipun pernah melalui masa ujian konflik, dan perbedaan latar belakang.
Dalam kesempatan tersebut, Wawali menegaskan, bahwa Tradisi 31 Januari bukan hanya sekadar acara adat, melainkan warisan mulia dari para leluhur, yang mengajarkan pentingnya hubungan kekeluargaan yang tak mengenal batasan agama maupun daerah asal.
“Tradisi yang diwariskan datuk-datuk kita ini masih hidup hingga saat ini, dan menjadi lambang nyata bagaimana kita sebagai orang basudara bisa tetap bersatu,” ucapnya.
Dikutip dari riwayat sejarah, masyarakat Hila Kristen sempat mengalami masa pengungsian akibat konflik yang terjadi pada tahun 2001, dan hingga kini mereka menetap di Dusun Tanah Putih.
Namun, jarak dan waktu tidak pernah memutuskan ikatan kekerabatan dengan masyarakat Negeri Kaitetu di Kabupaten Maluku Tengah.
Setiap tahun, perwakilan dari Negeri Kaitetu, termasuk raja, saniri, dan masyarakat umum, selalu menghadiri tradisi ini dengan penuh semangat. Beberapa ritual adat yang menjadi sorotan dalam peringatan kali ini antara lain Makan Ayam, Minum Sageru, dan Makan Patita.
Menurut Ely, kelestarian ritual-ritual tersebut menunjukkan, bahwa nilai-nilai kekeluargaan dan kebersamaan masih menjadi landasan utama dalam kehidupan masyarakat Maluku, yang selaras dengan upaya Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon, dalam membangun kehidupan bermasyarakat yang rukun dan damai di tengah keragaman.
Momen puncak acara datang ketika generasi muda dari kedua negeri menampilkan tarian adat khas Maluku, dan memperagakan kain gandong sebagai simbol kebersamaan. Adegan tersebut membuat Ely Toisutta terharu hingga meneteskan air mata.
“Inilah esensi kita sebagai orang Maluku. Jika tali persaudaraan sudah putus, tentunya saudara dari Kaitetu tidak akan repot datang dari jauh-jauh ke sini. Namun kenyataannya, kita tetap menjaga hubungan ini hingga hari ini,” ungkapnya.
Menurut Wawali, proses perpindahan warga Hila Kristen ke Tanah Putih justru menjadi momentum, untuk memperdalam rasa ingin bersama yang telah terjalin sejak lama dengan saudara di Negeri Kaitetu. Sebelum rangkaian hiburan malam dimulai, Ely juga memberikan pesan penting kepada seluruh peserta.
“Bersukacita saja hingga pagi hari, jika ingin bernyanyi, berdansa, dan badendang boleh saja dilakukan. Namun saya tekankan sekali lagi, jangan ada konsumsi minuman keras apa pun. Kita tidak boleh sampai kesukaan yang kita rayakan malah merusak kedamaian dan kebersamaan, yang telah kita jaga dengan susah payah,” tegasnya.
Untuk itu Wawali mengajak seluruh komponen masyarakat, untuk menjadikan budaya dan tradisi sebagai kekuatan utama dalam membangun Kota Ambon yang tidak hanya damai, tetapi juga kaya akan nilai budaya dan berkelanjutan untuk masa depan.






