
Lapas Kelas III Wahai menggelar Yasinan Malam Jumat, di Masjid At-Taubah, Kamis (5/2/2026) malam. Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Suasana khidmat selalu menghiasi malam menjelang Jumat di Lapas Kelas III Wahai. Di Masjid At-Taubah yang dibangun dengan kesederhanaan namun penuh makna, puluhan Warga Binaan berkumpul dengan khusyuk, Al-Qur’an di genggaman, menyimak dan mengikuti bacaan Surah Yasin yang bergema lembut pada Kamis (5/2/2026) malam.
Suara mereka mengalir merentasi jeruji besi dan tembok tinggi, membawa pesan harapan yang tak terkungkung.
La Joi, Ketua Majelis Taklim sekaligus mengelola Subseksi Admisi dan Orientasi di Lapas tersebut mengungkapkan betapa mendalamnya, dampak kegiatan ini bagi para Warga Binaan.
“Saat bacaan Yasin berlangsung, banyak di antara mereka yang terlihat sangat merenung, bahkan ada yang menangis. Momen ini menjadi waktu bagi mereka untuk menyadari kesalahan lalu, memohon ampunan, dan mencari kekuatan untuk berubah. Selain itu, kegiatan ini juga mempererat tali persaudaraan, mereka saling mendukung dan mengingatkan agar tetap fokus pada perbaikan diri,” jelasnya.
Bagi para penghuni Lapas Wahai, yasinan malam Jumat bukan sekadar rutinitas ibadah. Kegiatan ini menjadi wadah refleksi diri yang mendalam, kesempatan untuk menyusun niat baru, dan membangun keyakinan bahwa mereka mampu menjadi pribadi yang lebih baik kelak.
Seorang Warga Binaan dengan inisial HH bercerita tentang perubahan yang dirasakan dalam dirinya.
“Setiap malam menjelang Jumat, saya merasa hati menjadi tenang dan damai. Suara bacaan Al-Qur’an membuat saya semakin yakin, bahwa kesempatan untuk memperbaiki diri selalu ada, meskipun saya sedang menjalani masa pidana. Doa-doa yang saya panjatkan menjadi pegangan hidup dan pengingat bahwa saya harus kembali menjadi orang yang bermanfaat,” ucapnya.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya menyatakan, bahwa program pembinaan rohani seperti ini merupakan bagian dari upaya memberikan pelayanan yang humanis.
“Kita memahami bahwa di balik jeruji besi, mereka tetap membutuhkan dukungan untuk memperkuat mental dan moral. Yasinan menjadi salah satu cara, untuk membantu mereka menemukan makna hidup kembali dan tetap memiliki harapan. Kita selalu berusaha menumbuhkan semangat positif agar mereka siap menghadapi masa depan,” tuturnya.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro menekankan pentingnya pembinaan spiritual, dalam sistem pemasyarakatan.
“Warga Binaan adalah bagian dari masyarakat yang memiliki potensi untuk berubah. Melalui kegiatan keagamaan seperti yasinan, kita harapkan kesadaran mereka akan nilai-nilai luhur semakin tumbuh, sehingga ketika kembali ke masyarakat, mereka bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Lapas bukan hanya tempat untuk menjalani pidana, tetapi juga ladang amal untuk meningkatkan keimanan dan karakter,” pungkasnya.
Melalui pendekatan holistik dalam pembinaan, para Warga Binaan di Lapas Wahai tidak hanya belajar mematuhi aturan, tetapi juga diajak untuk merenung, menumbuhkan empati, dan merencanakan masa depan yang lebih baik.
“Kegiatan ini mengajarkan, bahwa doa dan harapan tidak akan pernah terkurung, karena kesempatan, untuk berubah selalu terbuka bagi siapa pun yang mau mengambil langkah maju,” tandas dia.




