Skip to content
BeritaAktual.co

BeritaAktual.co

Terkini, Aktual, Jujur, Independen

Primary Menu
  • Beranda
  • Metro
  • Daerah
    • Maluku
    • Daerah
    • Pemerintahan
    • Nasional
  • Hukrim
  • Internasional
  • Ekbis
    • Ekonomi & Bisnis
  • Aktual
    • Aktual
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Peristiwa
  • Politik
  • Feature
    • Feature
    • OPINI
    • Pariwisata
    • Tekno
  • REDAKSI
  • TMMD

Beranda Beranda » Metro

  • Metro

Menagih Nyali Negara di Jantung Fiskal: Mengapa OTT Kemenkeu Bukan Sekadar “Shock Therapy”

Marni Minggu, 8 Februari 2026 3 min read

Bagikan ini:

  • Bagikan pada Facebook(Membuka di jendela yang baru) Facebook
  • Bagikan ke X(Membuka di jendela yang baru) X
IMG-20260208-WA0065
Bagikan berita ini
        

Oleh:  Zainudin V.D

JAKARTA ,BeritaAktual.co – Di tengah kepulan asap retorika reformasi birokrasi, sebuah tamparan keras kembali mendarat di wajah institusi yang selama ini dianggap sebagai “anak emas” perbaikan sistem: Kementerian Keuangan.

 

 Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dilancarkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) pada awal Februari 2026 ini bukan sekadar berita kriminal biasa. Ia adalah sinyal darurat bahwa di jantung pengelolaan uang negara, korupsi masih memiliki detak yang kuat.

 

Langkah KPK kali ini mengirimkan pesan yang sangat terang benderang kepada publik: Tidak ada zona nyaman bagi para pemburu rente, bahkan di etalase reformasi sekalipun.

 

Anatomi Korupsi: Bukan Oknum, Tapi Pola

Penangkapan 17 orang di lingkungan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC),termasuk 12 pegawai aktif,dengan barang bukti uang tunai dan logam mulia seberat tiga kilogram, membongkar sebuah realita pahit. Sitaan emas tersebut bukan sekadar angka, melainkan simbol dari praktik korupsi yang sistematis dan berulang.

 

Kita harus berani jujur: ini bukan sekadar deviasi individu atau ulah “oknum” semata. Ketika manipulasi proses impor dan restitusi pajak terus terjadi secara berantai, kita sedang berhadapan dengan persoalan struktural. Jargon reformasi yang selama ini didengungkan seolah hanya menjadi tabir surya yang gagal melindungi kulit birokrasi dari panasnya godaan uang haram.

 

Menteri Keuangan menyebut penindakan ini sebagai shock therapy. Namun, publik patut bertanya: sampai kapan kita harus terus memberikan kejutan listrik jika jantung birokrasi itu sendiri enggan berdenyut dengan integritas?

 

Paradox Integritas dalam Angka

Data Survei Penilaian Integritas (SPI) KPK tahun 2025 memberikan landasan empiris yang mengkhawatirkan. Skor 72,32 yang menempatkan indeks integritas nasional pada kategori “rentan” adalah raport merah yang tak bisa dipoles.

 

“Problem korupsi kita bukan lagi sekadar celah regulasi, melainkan menyangkut mentalitas kekuasaan.”

 

Meskipun digitalisasi layanan terus digenjot, sistem sehebat apa pun akan tetap “dibajak” jika tidak ada integritas personal. Area terlemah dalam SPI—yaitu sosialisasi antikorupsi dan persepsi imparsialitas—menunjukkan adanya jarak lebar antara apa yang dijanjikan negara dengan apa yang dirasakan warga di loket-loket pelayanan.

 

Perspektif: Antara Sistem dan Nyali

Dr. Eliza Rahma, akademisi tata kelola publik, mengingatkan bahwa korupsi di sektor fiskal memiliki efek domino yang merusak kepercayaan publik secara total. Solusinya tidak bisa hanya sekadar memindahkan proses ke layar komputer (digitalisasi), tetapi harus mencakup pemangkasan diskresi aparat yang berlebihan.

 

Senada dengan itu, pakar hukum pidana Prof. Rangga Prasetyo menekankan bahwa KPK tidak boleh dibiarkan menjadi petarung tunggal. Penindakan harus menjadi pintu masuk bagi pembenahan hulu—mulai dari rekrutmen ASN hingga standar pelayanan publik yang kaku. Tanpa itu, KPK hanya akan terus “memanen” kasus tanpa pernah benar-benar mencabut akar masalahnya.

 

Momentum yang Tidak Boleh Dibelokkan

Upaya KPK dalam memperluas strategi pencegahan—mulai dari rekrutmen 174 CPNS baru yang berintegritas hingga program Safari Antikorupsi—patut diapresiasi. Namun, efektivitas seluruh orkestrasi ini bermuara pada satu titik: konsistensi dukungan politik.

 

Negara sedang diuji. Apakah OTT di Kemenkeu ini akan diikuti dengan pembersihan total, atau justru akan menguap begitu saja saat menyentuh kepentingan yang lebih besar?

 

Kesimpulannya, pemberantasan korupsi bukan sekadar upaya memenuhi ekspektasi publik atau janji kampanye yang manis. Ini adalah soal konsistensi. Ketika KPK dibiarkan bekerja tanpa pandang bulu hingga ke pusat kekuasaan fiskal, negara sebenarnya sedang menyembuhkan dirinya sendiri.

 

Momentum ini tidak boleh dibelokkan. Rakyat tidak butuh sekedar narasi keberhasilan; rakyat butuh melihat bahwa hukum tetap tegak, bahkan jika ia harus meruntuhkan gedung-gedung megah di jantung kekuasaan.(*/Mar)

Tentang penulis

Menagih Nyali Negara di Jantung Fiskal: Mengapa OTT Kemenkeu Bukan Sekadar "Shock Therapy" 2 mystery

Marni

See author's posts

Menyukai ini:

Suka Memuat...

Terkait

Continue Reading

Previous: Persidangan Jemaat Rehoboth ke-53 Dibuka, Wawali Dorong Sinergi Gereja-Pemerintah
Next: Persidangan ke-40 Jemaat GPM Hative Besar Dorong Kolaborasi untuk Ambon Sejahtera

Related News

Screenshot_20260305_173406_Photo Editor
2 min read
  • Metro

Pelantikan DPC PWKI  Se-Papua Barat Daya , Siap Jadi Penggerak Perubahan Masyarakat

Marni Kamis, 5 Maret 2026
IMG-20260228-WA0017
2 min read
  • Metro

Mantan Walikota Sorong Lambert Jitmau:Kota Sorong Sudah Miliki Jati Diri,Perlu Pemimpin Berani Bergerak 

Marni Sabtu, 28 Februari 2026
Screenshot_20260227_235737_CapCut
1 min read
  • Metro

Jelang Buka Puasa Rico Sia Turun ke Jalan Bagi 5.000 Takjil di Kota dan Kabupaten Sorong

Marni Sabtu, 28 Februari 2026

Berita lainnya

IMG-20260306-WA0014
2 min read
  • Daerah

Warga Ambon Sampaikan Keluhan di Program WAJAR

Q Jumat, 6 Maret 2026
IMG-20260306-WA0011
2 min read
  • Daerah

Sapulette: Segera Tangani Konflik Internal Komite Sekolah

Q Jumat, 6 Maret 2026
Screenshot_2026-03-05-22-18-49-333_com.android.chrome
2 min read
  • Daerah

Lapas Wahai dan Polsek Sinergi Jaga Keselamatan Lalu Lintas

Q Kamis, 5 Maret 2026
Screenshot_2026-03-05-22-18-23-649_com.android.chrome
2 min read
  • Daerah

Empat Petugas Lapas Wahai Ikuti Asesmen Satops Patnal

Q Kamis, 5 Maret 2026
Copyright ©2025 | BeritaAktual.co | All rights reserved. | MoreNews by AF themes.
%d