
Warga Binaan Kristiani di Lapas Kelas III Wahai mengikuti ibadah virtual Pekan Pra Paskah I yang diselenggarakan bersama Yayasan Cahaya Kasih, dengan suasana khidmat yang terpancar di Gereja Ebenhaizer, Senin (23/2/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Warga Binaan Kristiani di Lapas Kelas III Wahai mengikuti ibadah virtual Pekan Pra Paskah I yang diselenggarakan bersama Yayasan Cahaya Kasih, dengan suasana khidmat yang terpancar di Gereja Ebenhaizer, Senin (23/2/2026).
Ibadah ini difokuskan sebagai ruang refleksi rohani, untuk memperdalam iman dan mempertegas komitmen menjalani masa pembinaan dengan penuh ketaatan.
Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai, Merpaty Susana Mouw menyatakan, ibadah gabungan berbasis virtual menjadi wadah yang efektif, untuk refleksi serta mempererat hubungan antar Unit Pelaksana Teknis Pemasyarakatan.
“Ibadah ini menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter. Proses pembinaan yang mengajarkan ketaatan, dan kedisiplinan sedang membentuk mental Warga Binaan, agar siap kembali berinteraksi dengan masyarakat. Pembinaan spiritual adalah fondasi yang tidak tergantikan, untuk mencapai perubahan yang sesungguhnya,” jelasnya.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, mengatakan, ibadah virtual merupakan bagian dari program pembinaan mental dan spiritual, yang dirancang untuk mengatasi keterbatasan akses ke layanan keagamaan.
“Dengan menggunakan teknologi, Warga Binaan dapat tetap terhubung dengan aktivitas gereja, terutama di momen penting seperti awal pekan Prapaskah ini,” ujarnya.
Ia berharap, kegiatan rutin seperti ini akan membantu membentuk pribadi Warga Binaan yang lebih peduli pada nilai-nilai spiritual, memiliki kesadaran hukum yang kuat, dan mampu bertanggung jawab terhadap tindakannya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Dwi Ricky Biantoro memberikan apresiasi terhadap upaya konsisten, dalam menjalankan pembinaan kerohanian di seluruh jajaran Pemasyarakatan di Maluku, termasuk Lapas Wahai.

“Ibadah virtual ini menjadi bukti komitmen kita untuk mengembangkan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kedisiplinan, tetapi juga integritas dan nilai moral yang kokoh. Pendekatan pembinaan berbasis spiritual menjadi kunci, dalam mewujudkan sistem Pemasyarakatan yang humanis dan berkeadilan,” ungkapnya.
Ibadah pada pekan ini dipimpin oleh Pendeta Benny dengan mengambil teks Firman Tuhan dari Kitab Kejadian 2:15–17, dengan tema khotbah “Tahu Aturan dan Mau Diatur.”
Dalam khotbahnya, ia menyampaikan, bahwa aturan yang diberikan Tuhan sejak awal penciptaan merupakan bentuk kasih dan perlindungan bagi manusia.
“Pemahaman akan aturan harus diimbangi dengan kerendahan hati, untuk menerima pembimbingan. Ketaatan adalah, landasan bagi pemulihan hidup dan meraih kemenangan dalam setiap aspek kehidupan,” pesannya.
Pendeta Benny juga menegaskan, bahwa masa di dalam Lapas bukan hanya sebagai masa pembinaan hukum, tetapi juga kesempatan berharga untuk belajar disiplin, tanggung jawab, dan ketaatan sebagai bagian dari proses pembentukan karakter yang positif.
Melalui ibadah virtual Pekan Pra Paskah I tahun 2026 ini, diharapkan Warga Binaan semakin menyadari pentingnya hidup sesuai dengan ajaran Tuhan serta mematuhi peraturan yang berlaku, sebagai langkah awal menuju perubahan hidup yang lebih baik dan memberikan manfaat bagi diri sendiri serta masyarakat.




