
ibadah Minggu bagi warga binaan beragama Kristen di Gereja Ebenhaizer, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, Minggu (4/5/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Suasana khidmat dan penuh sukacita, mewarnai pelaksanaan ibadah Minggu bagi warga binaan beragama Kristen di Gereja Ebenhaizer, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, Minggu (4/5/2026).
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan kerohanian, yang rutin dilakukan untuk membentuk karakter, dan kepribadian yang lebih baik.
Ibadah dipimpin oleh Dkn. Y. Patty yang membawakan firman Tuhan, dari Amsal 2:1–9 dengan tema “Faedah dari pada Menuntut Hikmat”. Dalam khotbahnya, ia menekankan pentingnya hikmat, sebagai landasan menjalani kehidupan yang benar.
“Dengan menuntut hikmat, seseorang akan mampu membedakan yang baik dan benar, serta menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab,” ujar Patty.
Pelaksanaan ibadah yang terdiri dari pujian, doa, hingga perenungan firman berlangsung tertib dan penuh penghayatan. Nuansa kebersamaan, dan harapan baru terasa kuat di tengah keterbatasan ruang Lapas.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya menegaskan, bahwa kegiatan keagamaan memiliki peran strategis dalam proses pembinaan.
“Ibadah menjadi sarana penting, untuk memperkuat iman, dan menenangkan batin warga binaan. Kami ingin mereka memiliki motivasi, untuk berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik,” kata Tersih.
Ia menambahkan, pembinaan tidak hanya difokuskan pada aspek kedisiplinan, tetapi juga menyentuh sisi mental dan spiritual, sebagai fondasi perubahan perilaku.
Hal senada disampaikan Kepala Subseksi Pembinaan, Merpaty Susana Mouw. Menurutnya, keterlibatan aktif dalam kegiatan keagamaan menunjukkan dampak positif terhadap sikap warga binaan.
“Kami melihat perubahan yang cukup signifikan, seperti lebih disiplin, tenang, dan memiliki kesadaran diri yang lebih baik. Ini menjadi indikator, bahwa pembinaan berjalan efektif,” jelasnya.
Apresiasi juga datang dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Dwi Ricky Biantoro.
Dia menilai, pembinaan berbasis spiritual merupakan elemen penting, dalam sistem pemasyarakatan.
“Kegiatan keagamaan yang dilakukan secara konsisten, akan membantu membentuk karakter warga binaan, agar lebih siap kembali ke masyarakat,” ungkapnya.
Dia berharap, Mlmelalui ibadah rutin ini, warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga mendapatkan pembelajaran hidup yang bermakna, sehingga mampu menjalani kehidupan yang lebih bijaksana, dan bertanggung jawab di masa mendatang.




