
KABUPATEN MAYBRAT, BeritaAktual.co – Tiga warga sipil dilaporkan menjadi korban insiden penembakan di Kampung Ainod, sekitar kawasan pinggiran Sungai Kamundan, kabupaten Maybrat. Jumat (14/8/2026).
Peristiwa penembakan terjadi sekitar pukul 18.00 WIT, kamis sore, korban penembakan tersebut yakni, Silvester Asem, Selviana Sory, dan Anike Fatie.
Begitu insiden terjadi, tiga korban langsung dievakuasi dari kabupaten Maybrat ke kota Sorong di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sele Be Solu.Jumat malam (14/8/2026)
Anggota DPR Papua Barat Daya Willem Assem, menyampaikan kecaman mendalam atas peristiwa yang terjadi menimpa tiga masyarakat biasa.
“Mereka masyarakat biasa, perempuan yang tidak tahu apa-apa. Kenapa menembak warga sipil, padahal yang seharusnya dikejar adalah kelompok bersenjata,” ujarnya.
Wilem juga mempertanyakan keberadaan Satgas di wilayah tersebut, yang dinilai justru lalai, Satgas juga dinilai membatasi ruang gerak warga saat berkebun maupun berburu. Untuk itu, ia meminta Presiden Prabowo Subianto segera menarik Satgas dalam waktu 2×24 jam.
“Kami menolak permintaan maaf. Yang kami minta adalah kebenaran dan pengungkapan siapa pelakunya. Kasus ini akan saya kawal sampai tuntas,” tegas Wilem.
Wilem juga mempertanyakan apakah peristiwa merupakan “kado” menjelang HUT ke-81 RI. Wilem juga menuntut Forkopimda segera turun menangani peristiwa ini secara transparan guna memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap TNI dan Polri.
Sementara itu, Tokoh Masyarakat Aifat, Zakheus Momat juga mengutuk keras aksi tindakan yang terjadi karena dua dari tiga korban merupakan perempuan, sementara satu lainnya laki-laki.
“Masyarakat memberi batas waktu hingga hari Minggu untuk pihak berwenang segera mengungkap identitas pelaku, serta mengumumkannya secara resmi agar suasana menjelang 17 Agustus tetap aman. Jika tidak dipenuhi, keluarga dan masyarakat tidak bisa menjamin tidak akan terjadi aksi lanjutan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, para tokoh adat juga menyoroti bahwa wilayah Maybrat selama ini terlantar dalam pembangunan dan pemberdayaan, serta kerap dijadikan tempat konflik tanpa penyelesaian serius.
“Mereka meminta pemerintah Provinsi maupun Kabupaten menangani kasus ini dengan serius dan profesional, serta tidak membiarkan masyarakat terus menjadi korban berikutnya,” tandasnya.(Mar)
Setiba di RSUD Sele Be Solu, ketiganya
korban langsung dibawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) untuk menjalani pemeriksaan dan penanganan medis lebih lanjut. (Mar)







