
Warga binaan Lapas Wahai beragama Kristiani merayakan Paskah, melalui ibadah Minggu Paskah dengan penuh sukacita di Gereja Ebenhaezer Lapas, Minggu (5/4/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Suasana khidmat menyelimuti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai, saat warga binaan beragama Kristiani merayakan Paskah, melalui ibadah Minggu Paskah dengan penuh sukacita di Gereja Ebenhaezer Lapas, Minggu (5/4/2026).
Ibadah tersebut menjadi puncak dari rangkaian peringatan yang telah dimulai sejak Jumat Agung, di mana para warga binaan terlebih dahulu diajak merenungkan makna pengorbanan Yesus Kristus.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya menegaskan, bahwa pembinaan rohani merupakan bagian penting dalam proses pembinaan kepribadian warga binaan.
“Kami memberikan ruang seluas-luasnya untuk ibadah, apalagi di momen suci Paskah ini. Harapannya, melalui ibadah Jumat Agung dan Minggu Paskah, para warga binaan dapat memaknai pengampunan, bertobat, dan memperkuat iman mereka, agar menjadi manusia yang lebih baik setelah bebas nanti,” ungkapnya.
Suasana haru tampak saat para warga binaan mengikuti setiap prosesi ibadah. Salah satu warga binaan berinisial KL mengaku, momen Paskah memberikan kekuatan dan harapan baru.
“Ibadah Paskah ini sangat berarti bagi kami. Di sini, di tengah keterbatasan, kami merasakan damai dan harapan baru. Jumat Agung mengingatkan kami akan pengorbanan, dan hari ini menguatkan kami untuk bangkit kembali,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan warga binaan lainnya, MT, yang merasakan penguatan iman melalui ibadah tersebut.
“Ibadah ini memberi kekuatan rohani yang besar. Saya merasa dikuatkan untuk menjalani masa pembinaan dengan hati yang lebih ikhlas, dan berharap setelah bebas nanti bisa menjadi pribadi yang baru,” katanya dengan haru.
Sementara itu, Ketua Persekutuan Pegawai Kristen Oikumene Lapas, Frans Tepal, yang juga memimpin ibadah menekankan, bahwa Paskah merupakan momentum kebangkitan dan harapan baru bagi setiap individu untuk memperbaiki diri.
Ia juga mengapresiasi keseriusan para warga binaan, dalam mengikuti seluruh rangkaian ibadah.
“Puji Tuhan, mereka mengikuti seluruh rangkaian, dari Jumat Agung hingga Minggu Paskah, dengan sangat serius. Ini menunjukkan kesadaran rohani yang mendalam, untuk kembali ke jalan yang benar,” tuturnya.
Usai ibadah tatap muka, pada siang hari para warga binaan kembali mengikuti ibadah Paskah secara virtual bersama Yayasan Cahaya Pelayanan Kasih Bethesda, yang bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan.
Kegiatan kerohanian yang dilaksanakan secara luring dan daring ini menjadi bagian dari pembinaan kepribadian intensif di Lapas Wahai.
Upaya tersebut dilakukan untuk membekali warga binaan dengan kekuatan iman, sekaligus menjamin hak beribadah guna menciptakan suasana aman, tertib, serta harmonis di dalam lingkungan Lapas.




