
KOTA SORONG ,BeritaAktual.co – Himpunan Ahli Kesehatan Lingkungan Indonesia (HAKLI) bersama Aliansi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi (AKOPSI) dan Pemerintah Kota Sorong resmi menandatangani nota kesepahaman kerja sama untuk memperkuat kesehatan lingkungan dan sanitasi masyarakat. Kerja sama ini ditetapkan sebagai langkah strategis menjadikan Kota Sorong sebagai model penanganan penyakit Tuberkulosis (TB) yang berorientasi tidak hanya pada pengobatan, tetapi juga pencegahan agar pasien yang sembuh tidak mengalami kekambuhan.
Ketua Umum HAKLI, Prof. Dr. Arif Sumantri, menjelaskan meskipun data penanganan TB di Kota Sorong menunjukkan perkembangan yang positif, perhatian utama selanjutnya adalah menciptakan lingkungan dan pola hidup yang sehat sebagai benteng pencegahan.
Menurutnya, keberhasilan upaya ini tidak dapat bergantung sepenuhnya pada pemerintah, melainkan membutuhkan partisipasi aktif dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan diri maupun lingkungan sekitar.
“Pencegahan terbaik berasal dari kesadaran masyarakat sendiri. Kita tidak bisa hanya mengandalkan peran lembaga, melainkan harus tumbuh kemauan bersama untuk hidup bersih dan sehat,” ujarnya saat diwawancarai Jumat (29/5/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Arif juga menyampaikan pandangan mengenai pembangunan berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya memberdayakan masyarakat melalui pelatihan dan keterampilan dibandingkan memberikan bantuan yang sifatnya sesaat. Ia pun memberikan apresiasi terhadap langkah Pemerintah Kota Sorong dalam menata rumah sehat dan lingkungan permukiman yang dinilai mulai mengubah perilaku sanitasi warga menjadi lebih baik.
Selain penanganan TB, kerja sama ini juga mencakup pengawasan higiene sanitasi pangan dalam pengelolaan Satuan Pelayanan Pangan Gizi (SPPG) di bawah program Makanan Bergizi Gratis (MBG).
Arif menilai dapur merupakan titik kritis yang harus dijaga ketat untuk mencegah risiko keracunan pangan. Lebih lanjut, ia melihat limbah makanan bukan sekadar masalah, melainkan memiliki potensi sebagai ekonomi sirkular yang bisa memberikan manfaat ekonomi jika dikelola dengan baik dan melibatkan masyarakat.
Untuk memastikan kualitas layanan tetap terjaga, ia menyarankan agar setiap atau kelompok SPPG memiliki tenaga ahli sanitasi lingkungan yang bertugas mengawasi penerapan standar kebersihan secara berkelanjutan, bukan hanya mengandalkan prosedur tertulis.
Ia juga menyarankan evaluasi terhadap menu makanan yang disajikan agar lebih sesuai dengan selera dan kebutuhan siswa, guna mengurangi pemborosan limbah makanan yang masih tercatat cukup banyak.(*/Mar)







