
Penutupan kegiatan aktivasi sistem komando penanggulangan darurat dan bimbingan teknis, untuk Pusdalops tahun 2025, yang berlangsung di Hotel Rylich Panorama, Kamis (4/12/2025). Foto-Marni/BA
KOTA SORONG, BeritaAktual.co – Dinas Kebakaran, Penyelamatan, dan Penanggulangan Bencana (DKP2B) bersama Satpol PP Provinsi Papua Barat Daya (PBD) telah menyelesaikan kegiatan aktivasi sistem komando penanggulangan darurat dan bimbingan teknis, untuk Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) tahun 2025.
Kegiatan penutup yang berlangsung di Hotel Rylich Panorama, Kamis (4/12/2025) ini menjadi tonggak penting dalam memperkuat sistem penanggulangan bencana di provinsi yang baru berdiri.
Menurut Kepala Dinas DKP2B Vicky Baay S.IP, Pusdalops bukan hanya sekadar lembaga administrasi, melainkan “ujung tombak” yang menentukan keberhasilan penanggulangan bencana.
“Kecepatan dan akurasi data yang kita kelola akan menjadi kunci, untuk menyelamatkan nyawa dan meminimalkan kerusakan. Kita targetkan sistem ini beroperasi 24 jam sehari tanpa jeda, dan pengetahuan yang dipelajari peserta harus segera diterapkan di lapangan,” jelasnya, sembari menekankan pentingnya sinergi antar instansi, untuk membangun daerah yang tangguh.
Kepala BPBD PBD Joshua R. Homer menjelaskan, bahwa bimtek ini diikuti 16 peserta dari berbagai kabupaten, dengan tujuan membekali mereka tentang tugas dan fungsi Pusdalops yang diibaratkan sebagai “pusat otak informasi” bencana.
“Kita bekerja di semua tahap: sebelum bencana datang, saat terjadi, dan setelahnya. Di masa darurat, tim Pusdalops akan turun ke lapangan untuk mengumpulkan data dan menentukan kebutuhan pengungsi,” katanya.
Joshua juga mengaku, kondisi Pusdalops di PBD masih perlu diperkuat. Hanya beberapa daerah seperti Salawati Selatan dan Raja Ampat, yang sudah memiliki fasilitas ini, namun belum berjalan secara maksimal.
“Karena itu, pelatihan ini ditujukan untuk meningkatkan kapasitas SDM menjadi analis kebencanaan yang profesional, sehingga setiap daerah nantinya bisa memiliki Pusdalops yang berfungsi baik,” tambahnya.
Untuk memastikan kinerja optimal, pelatihan juga memasukkan teknologi mutakhir seperti GIS dan drone, dengan bimbingan dari BNPB Pusat, BNPB Papua Barat, serta konsultan lingkungan.
“Dengan drone atau Google Earth, kita bisa memantau daerah yang sulit dijangkau dan melihat seberapa besar keterpaparan bencana. Ini akan membantu pemerintah mengambil keputusan cepat dan tepat,” ungkap Joshua.
Selain itu, lanjut dia, pihak terkait juga berencana untuk menghubungkan Pusdalops dengan BMKG, agar informasi bencana bisa disebarkan secara real-time kepada masyarakat.
“Tujuannya, agar warga bisa mengambil tindakan pencegahan lebih awal dan mengurangi risiko kerusakan,” tandas Joshua.







