
Lapas Kelas III Wahai menggelar ibadah Minggu Prapaskah II, Minggu (1/3/2026), di Gereja Ebenhaezer. Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Lapas Kelas III Wahai menggelar ibadah Minggu Prapaskah II, Minggu (1/3/2026), di Gereja Ebenhaezer. Ibadah ini bertemakan “Kasih Setia Tuhan Tak Berkesudahan”, diselenggarakan sebagai bentuk pemenuhan hak beribadah, dan bagian dari program pembinaan kepribadian berbasis keagamaan bagi Warga Binaan.
Proses peribadatan yang diikuti dengan penuh khidmat ini bertujuan, untuk menyampaikan pesan tentang pemulihan diri, harapan baru, serta dorongan untuk perubahan perilaku positif.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya menjelaskan, ibadah rutin seperti ini merupakan salah satu pilar utama, dalam pembinaan mental dan spiritual yang dilakukan lembaga.
“Kami berharap, melalui momen ibadah ini, setiap Warga Binaan dapat merasakan kedamaian dan kedamaian batin, sekaligus memiliki tekad untuk memperbaiki diri serta bertobat dari kesalahan masa lalu. Kasih setia Tuhan menjadi landasan, agar mereka tidak mudah putus asa, melainkan tetap optimis dapat kembali menjadi bagian yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai, Merpaty Susana Mouw menambahkan, pembinaan kerohanian dijadikan dasar utama, dalam membentuk karakter positif para Warga Binaan.
Menurutnya, antusiasme yang tinggi yang ditunjukkan oleh mereka saat mengikuti ibadah, merupakan bukti adanya keinginan yang kuat untuk bertransformasi dan tumbuh secara spiritual.
“Kegiatan keagamaan seperti ini berperan efektif dalam menanamkan kesadaran akan nilai-nilai baik, kedisiplinan, serta landasan moral yang kokoh bagi setiap individu,” jelas Merpaty.
Sementara itu dalam khotbahnya, Penatua Musa Elake mengutip firman Tuhan dari Ratapan 3:19-23, yang menegaskan bahwa kasih setia Tuhan tidak pernah berakhir dan rahmat-Nya selalu hadir setiap hari.
Ia menyampaikan bahwa setiap tantangan dan penderitaan yang dialami manusia tidak luput dari perhatian Tuhan.
“Di tengah segala keterbatasan dan pergumulan yang dihadapi, Tuhan tetap setia menyertai kita. Penderitaan bukanlah titik akhir, melainkan proses untuk menguatkan iman dan membentuk karakter yang lebih baik. Selama kita tetap mempercayai dan berharap kepada-Nya, akan selalu ada penghiburan dan kesempatan baru, untuk memulai hidup yang lebih positif, meninggalkan masa lalu yang tidak diinginkan,” paparnya.
Suasana ibadah terasa khidmat dan penuh penghayatan. Para Warga Binaan mengikuti setiap rangkaian kegiatan mulai dari pujian bersama, doa, hingga sesi perenungan firman Tuhan dengan sungguh-sungguh.
Momentum ini juga menjadi sarana, untuk mempersiapkan hati dan pikiran mereka menyambut hari raya Paskah, sebagai perayaan kemenangan Kristus atas penderitaan dan kematian.
Kegiatan ini menjadi bukti komitmen Lapas Wahai untuk menjalankan pembinaan secara humanis, yang tidak hanya fokus pada aspek hukum dan tata tertib, tetapi juga menyentuh dimensi terdalam dalam kehidupan Warga Binaan Kristiani, sehingga semangat Paskah benar-benar menjadi sumber harapan dan pembaruan hidup bagi setiap orang yang berada di dalam lingkungan lembaga pemasyarakatan.




