
Lapas Kelas III Wahai berhasil memanen sayuran kangkung dari kebun hidroponik vertikultur, yang dikelola oleh Warga Binaan, Senin (2/3/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai berhasil memanen sayuran kangkung dari kebun hidroponik vertikultur, yang dikelola oleh Warga Binaan, Senin (2/3/2026).
Hasil panen ini langsung dialirkan ke dapur Lapas, untuk memenuhi kebutuhan bahan makanan segar selama bulan Ramadan 1447 Hijriah.
Program pertanian kemandirian ini dijalankan meskipun keterbatasan lahan yang tersedia. Dengan memanfaatkan area sempit di pojok belakang tembok Lapas, sistem tanam vertikultur diterapkan secara optimal.
Kangkung yang dibudidayakan memiliki keunggulan siklus panen yang cepat, yaitu antara 21 hingga 30 hari, sehingga mampu menjamin pasokan sayuran yang berkelanjutan setiap bulan.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya mengungkapkan, bahwa program ini tidak hanya sekadar kegiatan bercocok tanam, melainkan bagian integral dari pembinaan yang berdampak nyata.
“Kami mengubah lahan terbatas menjadi sumber manfaat yang praktis. Kangkung segar dari hidroponik ini menjadi bagian penting, dalam menu sahur dan berbuka puasa Warga Binaan di bulan suci Ramadan ini. Ini adalah bentuk pembinaan yang produktif, dan memberikan nilai tambah bagi semua pihak,” jelasnya.
Tersih menambahkan, penggunaan teknologi hidroponik memberikan banyak keuntungan, termasuk kebersihan produk, efisiensi penggunaan air, serta kemudahan dalam perawatan tanaman.
“Seluruh tahapan mulai dari penyemaian, pemeliharaan, hingga proses panen dilakukan secara mandiri oleh Warga Binaan,” ujar dia.
Ia juga mengajak seluruh elemen, untuk mendukung Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Tahun 2026,yang fokus pada peningkatan kemandirian pangan di lingkungan pemasyarakatan.
Kepala Subseksi Pembinaan, Merpaty Susana Mouw mengaku, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran keterampilan hidup yang berharga bagi Warga Binaan.
Selain membantu menghemat anggaran pembelian bahan makanan segar, program ini juga memperkuat fondasi kemandirian pangan lembaga, terutama di masa Ramadan, yang membutuhkan pengelolaan konsumsi yang lebih cermat.
“Selain menghasilkan panen yang berguna, Warga Binaan juga belajar banyak hal, mulai dari teknik dasar hidroponik, cara mengatur jadwal tanam, hingga pentingnya konsistensi dalam merawat tanaman. Mereka bisa merasakan kepuasan pribadi, saat melihat hasil kerja keras mereka langsung dinikmati bersama,” ucap Merpaty.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif yang dilakukan Lapas Wahai.
“Keterbatasan lahan bukanlah alasan untuk tidak produktif. Melalui kreativitas dan komitmen pada pembinaan, lahan sempit bisa diubah menjadi sumber manfaat yang berarti. Ini adalah contoh nyata, bagaimana pembinaan kemandirian dapat diwujudkan secara berkelanjutan,” pujinya.
Menurut Ricky, nilai yang terkandung dalam program ini jauh lebih besar dari sekadar jumlah hasil panen yang diperoleh.
“Yang paling penting adalah, semangat kerja sama, kemampuan berinovasi, dan kesadaran akan pentingnya produktivitas yang ditanamkan kepada Warga Binaan. Di bulan Ramadan yang penuh berkah ini, program ini menjadi simbol perubahan positif dan harapan untuk masa depan yang lebih baik,” tambahnya.
Kini, kebun hidroponik vertikultur sederhana di Lapas Wahai tidak hanya menghasilkan sayuran kangkung yang segar dan bergizi bagi Warga Binaan, tetapi juga menjadi wadah pembinaan yang memberikan nilai pendidikan, keterampilan, serta kesadaran akan pentingnya kemandirian dan kerja keras.




