
Lapas Kelas III Wahai melakukan sosialisasi khusus, mengenai langkah-langkah pencegahan penyebaran Hantavirus kepada seluruh warga binaan, Rabu (20/5/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai bergerak cepat melakukan sosialisasi khusus, mengenai langkah-langkah pencegahan penyebaran Hantavirus kepada seluruh warga binaan, Rabu (20/5/2026).
Langkah antisipatif ini diambil, guna memastikan lingkungan di dalam lembaga pemasyarakatan tetap bersih, sehat, dan sepenuhnya terhindar dari potensi penularan penyakit yang dibawa, dan ditularkan melalui hewan pengerat, terutama tikus.
Kegiatan edukasi yang berlangsung di beranda Lapas Wahai tersebut difokuskan pada penyuluhan mengenai pentingnya pola hidup bersih dan sehat, serta pengenalan secara mendalam mengenai gejala-gejala awal yang muncul akibat infeksi hantavirus.
Dalam pemaparan materi, seluruh warga binaan diberikan pemahaman rinci mengenai betapa krusialnya menjaga kebersihan kamar hunian dan lingkungan sekitar, agar tidak menjadi tempat tinggal atau sarang bagi tikus, yang berpotensi membawa virus mematikan tersebut.
Petugas Lapas Wahai, Fitri Rianti, yang bertindak sebagai pemateri utama dalam kegiatan tersebut menjelaskan, bahwa pemahaman yang benar mengenai bahaya hantavirus sangat penting dimiliki setiap warga binaan, mengingat cara penularannya yang bisa terjadi melalui udara, yang telah terkontaminasi kotoran atau sisa buangan tikus.
“Kami menekankan kepada seluruh warga binaan, bahwa hantavirus ini bukanlah hal yang sepele atau bisa dianggap remeh. Infeksi dari virus ini bisa menyerang sistem saluran pernapasan dengan sangat cepat dan berbahaya. Oleh karena itu, memutus rantai penularannya harus dimulai dari kedisiplinan menjaga kebersihan, di setiap sudut kamar dan barak hunian masing-masing,” ujar Fitri Rianti.
Sementara itu, Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai, Merpaty Mouw menegaskan, pemenuhan hak atas kesehatan bagi warga binaan merupakan salah satu prioritas utama, yang masuk ke dalam program pembinaan, dan pelayanan di lingkungan pemasyarakatan.
“Kegiatan sosialisasi ini adalah bentuk nyata pemenuhan hak dasar setiap warga binaan, untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak dan perlindungan diri. Selain memberikan pemahaman, kami juga sudah menjadwalkan pelaksanaan pembersihan menyeluruh dan total pada area-area yang dinilai rawan menjadi tempat berkembang biak tikus, agar lingkungan benar-benar aman,” jelas Merpaty Mouw.
Upaya preventif yang dilakukan ini mendapatkan respons yang sangat positif dan antusias dari para warga binaan.
Salah satu Warga Binaan berinisial WT mengaku, sebelumnya sama sekali tidak mengetahui apa itu hantavirus, namun setelah mengikuti jalannya edukasi, dirinya menjadi paham dan sadar akan bahaya yang mengintai.
“Jujur saja, awalnya saya tidak tahu dan belum pernah mendengar apa itu hantavirus. Namun setelah mendengar penjelasan dari petugas tadi, kami jadi sadar betapa bahayanya penyakit ini. Kami pun berjanji akan lebih giat lagi membersihkan kamar dan lingkungan, serta tidak akan membiarkan sisa makanan berserakan yang bisa mengundang tikus masuk ke dalam kamar,” katanya.
Di sisi lain, Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya mengatakan, langkah cepat yang dilakukan pihaknya merupakan bentuk deteksi dini yang sangat diperlukan, mengingat kondisi lingkungan Lapas yang memiliki tingkat hunian cukup padat.
“Kami harus bergerak cepat dan tanggap, karena di lingkungan Lapas, faktor kepadatan hunian membuat risiko penularan penyakit bisa terjadi secara masif dan meluas dengan sangat cepat, jika tidak segera diantisipasi. Melalui sosialisasi ini, kami sedang membangun pertahanan pertama dari sisi kesadaran dan kepedulian Warga Binaan itu sendiri,” tegas Tersih Victor Noya.
Serangkaian upaya preventif tersebut juga mendapatkan dukungan penuh dan apresiasi tinggi dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro.
Menurutnya, langkah proaktif yang diambil oleh Lapas Wahai merupakan bukti nyata pelayanan kesehatan yang humanis dan berorientasi pada keselamatan warga binaan.
“Ini adalah langkah konkret yang sangat baik dalam menjaga keselamatan, keamanan, dan kesehatan warga binaan. Tindakan pencegahan dan edukasi seperti inilah yang menjadi bukti nyata keseriusan kita, dalam memberikan pelayanan yang humanis, bermutu, dan prima bagi setiap orang yang berada di bawah binaan kita,” tutur Ricky Dwi Biantoro.
Melalui kegiatan edukasi dan pencegahan ini, menurut Ricky, Lapas Wahai menegaskan komitmennya, untuk terus berupaya menciptakan dan menjaga lingkungan pemasyarakatan yang bersih, sehat, nyaman, aman, dan sepenuhnya bebas dari ancaman berbagai penyakit menular.




