
Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena, saat memaparkan rencana pembangunan MRF dengan teknologi RDF, dalam rangkaian KPPD Angkatan III Tahun 2026, di Lemhannas RI, Rabu (15/7/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Wali Kota Ambon, Bodewin M. Wattimena menekankan pentingnya perubahan paradigma dalam pengelolaan sampah, dari sekadar penanganan limbah menjadi bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan.
Menurutnya, pengelolaan sampah yang modern harus mampu memberikan dampak positif bagi lingkungan, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta mendukung kemandirian energi di Kota Ambon.
Demikian disampaikan Wattimena, saat memaparkan rencana pembangunan Material Recovery Facility (MRF) dengan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF), dalam rangkaian Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah (KPPD) Angkatan III Tahun 2026, di Lemhannas RI, Rabu (15/7/2026).
“Persoalan sampah bukan lagi masalah biasa. Ini butuh solusi berkelanjutan lewat inovasi, kolaborasi, dan pemanfaatan teknologi,” ujar Wattimena.
Langkah utama yang disiapkan adalah, fasilitas MRF terintegrasi RDF, di mana sampah dipilah dan diolah menjadi bahan bakar alternatif, serta produk bernilai ekonomi, bukan sekadar ditumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sampah.
Targetnya, pada tahun 2027 hanya sekitar 10 persen sampah yang masuk ke TPA, sedangkan sisanya diolah menjadi RDF, kompos, maupun bahan daur ulang.
Berbagai tahapan persiapan sudah berjalan, mulai dari studi kelayakan, penetapan lokasi, skema pembiayaan dari APBD dan kerja sama swasta, hingga penyusunan desain teknis yang ditargetkan mulai direalisasikan akhir tahun 2026.
“Pemerintah juga memperkuat edukasi masyarakat, pembentukan tim pengawas lingkungan, serta sinergi dengan Pemprov Maluku, dan seluruh pemangku kepentingan,” kata dia.
Saat ini volume sampah di Ambon mencapai sekitar 250 ton per hari. Pemerintah menargetkan 55 persen diolah menjadi RDF, 15 persen bahan daur ulang, 25 persen kompos, dan hanya 10 persen yang dibuang ke TPA.
“Kami ingin sistem yang tidak hanya menyelesaikan masalah lingkungan, tapi juga menciptakan nilai tambah ekonomi dari sampah sebagai sumber energi,” jelasnya.
Selain memaparkan program daerah, Wattimena juga berbagi pengalaman berharga selama mengikuti KPPD, antara lain mempelajari sistem pengelolaan sampah di Singapura yang menjadi inspirasi penerapan teknologi, yang sesuai kondisi lokal.
Ia juga mengambil pesan mendalam dari dialog dengan mantan Perdana Menteri Singapura, bahwa integritas, komitmen, dan ketulusan melayani adalah fondasi utama kepemimpinan.
Wattimena berharap, seluruh peserta KPPD dapat menjadikan kesempatan ini untuk memperluas jejaring, memperkaya wawasan, dan melahirkan kebijakan yang berdampak nyata bagi pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di daerah masing-masing.





