
Lapas Kelas III Wahai melaksanakan upacara bendera, dalam rangka memperingati Harkitnas ke-118, Rabu (20/5/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai melaksanakan Upacara Bendera secara khidmat, dalam rangka memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118, Rabu (20/5/2026).
Kegiatan yang berlangsung di lapangan upacara Lapas Wahai itu, diikuti secara lengkap oleh seluruh jajaran pegawai, serta dihadiri oleh perwakilan Warga Binaan (WB), sebagai wujud kebersamaan dalam merayakan momen bersejarah bangsa.
Mengusung tema nasional “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”, Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, yang bertindak selaku inspektur upacara menegaskan, bahwa peringatan Harkitnas ini menjadi momentum refleksi yang sangat penting bagi seluruh elemen bangsa, termasuk lingkungan pemasyarakatan, untuk meninjau kembali peran dan tanggung jawab masing-masing.
Dalam amanatnya, Tersih menyebut, sejarah lahirnya organisasi Boedi Oetomo pada tahun 1908 menjadi tonggak awal bangkitnya kesadaran kaum terpelajar di masa lalu, untuk bersatu padu demi mengejar kemajuan, dan kehormatan bangsa Indonesia.
“Jika dahulu perjuangan berfokus pada perlawanan fisik untuk merebut, dan mempertahankan kemerdekaan, maka di era modern ini tantangan telah bertransformasi menjadi perjuangan intelektual, penguatan literasi digital, serta upaya perlindungan yang ketat terhadap generasi muda dari berbagai pengaruh buruk,” ungkapnya.
Pada kesempatan tersebut, turut dibacakan amanat resmi Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) RI, Meutya Viada Hafid, yang menekankan pentingnya tanggung jawab kolektif untuk menjaga “tunas bangsa” dari berbagai ancaman yang dapat merusak moral, karakter, serta masa depan generasi penerus.
Dalam konteks tugas pokok pemasyarakatan, tema besar tersebut diterjemahkan secara khusus dan nyata oleh jajaran Lapas Wahai, melalui berbagai program pembinaan yang menyeluruh bagi warga binaan.
Menurut Tersih, pembinaan di lembaga pemasyarakatan tidak semata-mata dipandang sebagai proses menjalani hukuman atau pemidanaan, melainkan juga sebagai bentuk ikhtiar kemanusiaan yang mulia, untuk menyelamatkan dan mengembalikan individu, agar kembali menjadi pribadi yang berfungsi sosial, produktif, berkarakter kuat, serta berdaya saing di tengah masyarakat.
“Pembinaan terhadap warga binaan tidak hanya dilihat sebagai proses pemidanaan, melainkan ikhtiar kemanusiaan untuk menyelamatkan dan mengembalikan individu, agar kembali menjadi bagian dari tunas bangsa yang produktif, berkarakter, serta berdaya saing,” jelasnya.
Lebih lanjut Tersih menegaskan, Lapas Wahai terus berkomitmen penuh menciptakan lingkungan pembinaan yang humanis, kondusif, dan bermartabat.
Hal ini diwujudkan melalui pelaksanaan berbagai program, mulai dari pembinaan kemandirian dan keterampilan kerja, pendidikan karakter dan wawasan kebangsaan, hingga peningkatan kualitas spiritual seperti kegiatan belajar membaca huruf Hijaiyah dan pemahaman agama.
“Semangat Hari Kebangkitan Nasional ini, diharapkan menjadi energi baru yang positif bagi seluruh petugas dan warga binaan Lapas Wahai, untuk terus berkarya, menjaga integritas, serta bersama-sama mewujudkan cita-cita Indonesia yang maju, adil, makmur, dan berdaulat sepenuhnya,” harap dia.
Upacara peringatan Harkitnas ke-118 tersebut ditutup dengan doa bersama, sebagai wujud harapan, agar semangat persatuan dan nilai-nilai kebangkitan nasional terus hidup dan tumbuh subur di tengah masyarakat, termasuk di lingkungan pemasyarakatan.




