
Lapas Kelas III Wahai terus menghadirkan inovasi melalui program unggulan bertajuk “Wali Menyapa”, Rabu (15/4/2026). Foto-Ist/BA
AMBON, BeritaAktual.co – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai terus menghadirkan inovasi, dalam membangun sistem pembinaan yang inklusif, dan berbasis kekeluargaan.
Melalui program unggulan bertajuk “Wali Menyapa”, Lapas Wahai berupaya menghapus sekat komunikasi antara petugas dan warga binaan (WB), demi mendorong keberhasilan reintegrasi sosial.
Program ini dirancang untuk memberikan perhatian yang lebih personal kepada setiap warga binaan.
Dalam pelaksanaannya, petugas yang berperan sebagai Wali Pemasyarakatan secara rutin melakukan dialog interaktif guna menyerap aspirasi, memantau perkembangan perilaku, serta menggali potensi yang dimiliki para penghuni lapas.
Kepala Regu Pengamanan, Jordy Jozeph Laisina menegaskan, bahwa pendekatan keamanan kini berjalan seiring dengan pendampingan emosional.
Menurutnya, kehadiran petugas tidak semata sebagai pengawas, tetapi juga sebagai figur pendamping yang mampu membangun kedekatan secara manusiawi.
“Melalui Wali Menyapa, kami ingin memastikan warga binaan tidak merasa sendiri. Petugas hadir sebagai kakak, sahabat, sekaligus pembimbing yang membantu mereka menemukan kembali jati diri yang positif,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).
Hal serupa disampaikan oleh Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya. Ia menilai, bahwa stabilitas keamanan saat ini tidak lagi bertumpu pada pendekatan fisik semata, melainkan kekuatan komunikasi yang efektif.
“Wali Menyapa menjadi jembatan hati antara petugas dan warga binaan. Dengan dialog yang terbuka, kami lebih mudah mengidentifikasi potensi mereka, baik di bidang seni, kerajinan, maupun keterampilan lain sebagai bekal setelah bebas,” jelasnya.
Menurutnya, dengan implementasi program “Wali Menyapa”, Lapas Wahai diharapkan mampu menekan tingkat stres di dalam lingkungan pemasyarakatan, sekaligus mencegah potensi gangguan keamanan melalui pendekatan persuasif.
“Lebih dari itu, program ini menjadi langkah konkret dalam menjadikan masa pidana, sebagai periode produktif untuk mempersiapkan warga binaan kembali ke tengah masyarakat,” tandas dia.
Dukungan juga datang dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, yang menyebut program ini sebagai bagian dari transformasi sistem pemasyarakatan modern, yang mengedepankan pendekatan humanis.
Ia menegaskan, bahwa paradigma pemasyarakatan kini diarahkan tidak lagi sekadar sebagai tempat menjalani hukuman, melainkan sebagai ruang pembinaan dan pengembangan diri.
“Saya menilai kedekatan antara Wali Pemasyarakatan dan warga binaan menjadi faktor kunci dalam keberhasilan proses tersebut,” tutup Ricky.




