
SORONG, BeritaAktual.co – dr. Jan Pieter E.A. Kambu, Sp.OG., Subsp., kembali dipercaya memimpin Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Cabang Papua Barat dan Papua Barat Daya untuk masa bakti 2025–2028. Pelantikan pengurus baru dilakukan secara resmi oleh Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) POGI, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, Sp.OG., Subsp.FER., MPH., FRANZCOG (Hons), FICRM, di Rylich Panorama Hotel Sorong, pada Kamis (18/6/2026).
Acara pelantikan ini dirangkaikan dengan pertemuan tatap muka antara pengurus pusat serta anggota POGI, dan dihadiri langsung oleh Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, jajaran tenaga kesehatan, perwakilan organisasi profesi, serta para pemangku kepentingan di bidang kesehatan.
Dalam sambutannya, Ketua Umum PP POGI, Prof. Budi Wiweko, menyampaikan dukungan penuh terhadap kepengurusan yang baru saja dilantik untuk terus memperkuat kualitas pelayanan kesehatan reproduksi perempuan di kedua provinsi tersebut. Ia juga menegaskan kesiapan organisasi untuk bersinergi dengan pemerintah daerah.
“Atas nama PP POGI, kami mendukung penuh Ketua Pengurus Cabang beserta seluruh jajarannya. Kami siap mendukung Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya dalam berbagai program kesehatan, khususnya yang berkaitan langsung dengan kesehatan ibu dan anak,” ujar Prof. Budi.
Ia menjelaskan bahwa saat ini POGI memiliki sekitar 5.807 anggota yang tersebar di seluruh Indonesia, di mana sebanyak 27 orang di antaranya merupakan dokter spesialis obstetri dan ginekologi yang bertugas di wilayah Papua Barat Daya. Menurutnya, pemerataan distribusi tenaga spesialis kesehatan masih menjadi tantangan utama yang terus diperjuangkan, agar seluruh lapisan masyarakat dapat memperoleh akses layanan kesehatan yang lebih baik dan merata.
Selain prosesi pelantikan, kegiatan ini juga menjadi momen penting dengan penandatanganan Komitmen Bersama Mendukung Program 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Komitmen ini dipimpin langsung oleh Gubernur Papua Barat Daya dan melibatkan POGI, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), pemerintah daerah, serta berbagai pihak terkait lainnya.
Gubernur Papua Barat Daya, Elisa Kambu, dalam kesempatan tersebut menekankan bahwa pembangunan sumber daya manusia yang berkualitas harus dimulai dari perhatian serius terhadap kesehatan ibu dan anak. Kualitas generasi mendatang, menurutnya, sangat bergantung pada kondisi kesehatan dan kecukupan gizi yang didapatkan sejak masa kehamilan hingga awal kehidupan.
“Generasi yang akan kita lahirkan dan besarkan di bumi ini kualitasnya sangat ditentukan oleh kesehatan ibunya, kemudian kesehatan janin, hingga anak yang dilahirkan. Karena itu, pemenuhan asupan gizi yang berimbang harus menjadi perhatian dan tanggung jawab kita semua,” tegas Elisa.
Ia juga mengingatkan pentingnya penguatan layanan kesehatan di tingkat dasar atau puskesmas, termasuk pemenuhan kebutuhan tenaga bidan, dokter, dan tenaga gizi, agar berbagai permasalahan kesehatan dapat dideteksi dan ditangani sejak dini sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius.
Sementara itu, Ketua terpilih POGI Cabang Papua Barat–Papua Barat Daya, dr. Jan Pieter Kambu, menyatakan bahwa kepengurusannya ke depan akan terus memperkuat kemitraan strategis dengan pemerintah. Fokus utamanya adalah mendukung program kesehatan reproduksi perempuan, menurunkan angka kematian ibu dan bayi, serta mempercepat penurunan angka stunting di wilayah tersebut.
Ia menekankan bahwa keberhasilan program 1.000 Hari Pertama Kehidupan tidak dapat dijalankan sendiri oleh satu pihak, melainkan memerlukan kolaborasi aktif dari seluruh elemen masyarakat dan organisasi profesi.
“Program ini bukan hanya tugas Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat Daya saja, tetapi harus melibatkan semua pihak. Kita harus bekerja sama dan berkolaborasi secara nyata agar hasilnya terasa bagi masyarakat,” ujar Jan Pieter.
Sebagai bentuk dukungan konkret, pihaknya bersama pemerintah daerah menyalurkan bantuan sebanyak 100 unit Bidan Kit yang akan didistribusikan ke berbagai puskesmas di Papua Barat Daya. Bantuan ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan dan kesiapan tenaga bidan dalam menangani proses persalinan serta penanganan kegawatdaruratan obstetri di fasilitas kesehatan tingkat pertama.
“Kami juga akan terus berfokus pada pelatihan dan peningkatan kompetensi bagi bidan dan dokter umum, memperkuat sistem rujukan kesehatan, serta meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu dan anak. Langkah ini diambil agar angka kematian ibu, kematian bayi, dan angka stunting dapat terus kita tekan dan turunkan,” tambahnya.
Pada penutupan acara, Ketua Umum PP POGI menyerahkan plakat apresiasi kepada Gubernur Papua Barat Daya sebagai bentuk penghargaan atas dukungan pemerintah daerah dalam pengembangan dan peningkatan layanan kesehatan ibu dan anak. Kegiatan ditutup dengan penyerahan simbolis Bidan Kit kepada perwakilan puskesmas, menandai dimulainya langkah nyata penguatan layanan kesehatan dasar di wilayah Papua Barat Daya.(*/Mar)





